manufactured

Minggu, 29 Mei 2011

Manfaat dan Bahaya Minyak Jelantah

 

Minyak jelantah itu apa sih ?? Bahaya nggak ya kalau kita menkonsumsi makanan yang digoreng dengan minyak jelantah ?? Di samping bahayanya sangat besar bagi kesehatan tubuh apakah minyak jelantah ada manfaatnya ??

Artikel ini akan mencoba menjelaskan tentang bahaya dan manfaat dari penggunaan minyak jelantah.

Minyak jelantah adalah minyak goreng yang dipanaskan atau digunakan berulang kali dan telah mengalami perubahan, baik secara fisik maupun kimia yakni dengan adanya perubahan warna dari bening menjadi berwarna gelap dan berbau tengik, serta secara kimiawi mengalami perubahan reaksi hidrolis, oksidasi termal dan polimerasi termal.

Seringkali kita menemui penggunaan minyak ini di warung-warung makanan dan penjual gorengan. Para pedagang menggunakannya karena di samping harganya yang murah, para pedagang juga merasa sayang membuang minyak goreng yang telah dipakai karena harga minyak saat ini meroket. Padahal penggunaan minyak jelantah sendiri berbahaya lho.

Coba kita lihat tukang gorengan di sepanjang jalan. Warna minyaknya yang mendidih selalu berwarna hitam pekat. Semakin pekat warnanya konon akan semakin gurih rasa gorengannya. Ya, itulah minyak jelantah yang sudah digunakan berulang kali. Demi alasan penghematan, minyak jelantah digunakan terus-menerus. Alhasil, kesehatan tubuh yang memakan gorengan lah yang menjadi korbannya. Jika Anda menyukai gorengan, waspadalah terhadap gorengan berwarna gelap dan bertekstur lebih keras dari biasanya karena mungkin minyak yang digunakan adalah minyak jelantah.
Tidak jauh dari perilaku itu, kita pun kadang merasa sayang membuang minyak jelantah dari dapur kita. Minyak jelantah masih saja kita gunakan meski kita tahu bahwa minyak itu sudah tidak layak dipakai.
Padahal kita tahu, minyak jelantah telah mengalami perubahan struktur kimiawinya akibat proses penggorengan. Minyak jelantah mengandung asam lemak jenuh yang tinggi yang berbahaya bagi tubuh. Kandungan kolesterol baik (HDL) semakin berkurang sementara kolesterol buruk (LDL) semakin meningkat. Hal ini dapat memicu berbagai penyakit seperti hipertensi, penyumbatan peredaran darah, penyakit jantung, dan stroke. Bahkan lebih dari itu, minyak jelantah dapat menyababkan kanker colon pada usus besar.
Minyak jelantah pun dapat merusak nutrisi baik yang dikandung makanan. Contohnya ikan salmon yang mengandung Omega-3, nutrisi yang bermanfaat untuk menurunkan kolesterol dalam darah, akan hilang khasiatnya jika digoreng dengan minyak jelantah karena komposisi ikatan rangkapnya menjadi rusak.

Berdasarkan hasil kajian dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM RI Mataram), serta kajian dari pakar kesehatan terhadap penggunaan minyak jelantah sebagai minyak goreng akan memberikan dampak pada gangguan kesehatan. Gangguan kesehatan yang ditimbulkan tersebut diantaranya, penggunaan minyak goreng berulang kali (lebih dari dua kali) pada suhu tinggi (160 derajat C sampai dengan 180 derajat C) akan mengakibatkan hidrolis lemak menjadi asam lemak bebas yang mudah teroksidasi, sehingga minyak menjadi tengik dan membentuk asam lemak trans yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan yang berhubungan dengan metabolisme kolesterol yang berujung pada penyakit tekanan darah tinggi dan jantung serta akan membentuk akrolein yaitu suatu senyawa yang menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan dan menimbulkan batuk. Selain itu, pengonsumsi minyak ini juga beresiko terkena penyumbatan pembuluh darah dan jantung koroner. Dan yang tak kalah berbahaya, minyak ini juga bersifat karsinogen sehingga bisa menyebabkan kanker.

Mungkin bahaya di atas tidak akan terlihat hanya dengan sesekali mengonsumsi. Tapi bagaimana jika kita mengonsumsinya hampir setiap hari? Zat-zat berbahaya itu akan menumpuk di tubuh kita dan efeknya baru akan terasa.

Lalu, kenapa minyak jelantah masih banyak digunakan dan dikonsumsi?

Dari segi pedagang

Di tengah harga bahan makanan yang semakin meroket, para pedagang makanan harus mencari akal agar harga makanan jualannya tidak ikut naik karena hal itu akan berakibat berkurangnya pembeli. Akhirnya ada pedagang yang mengakali dengan mengurangi porsi makanan. Ada juga yang mengakali dengan menggunakan minyak bekas dan dipakai berulangkali sehingga pedagang tidak harus membeli minyak baru setiap harinya.

Tidak tahukah mereka bahaya minyak jelantah?

Sebagian pedagang sebenarnya tahu bahaya penggunaan minyak jelantah. Tapi mereka lebih mementingkan tidak mau rugi daripada kesehatan pembeli dagangannya. Hal ini cukup memprihatinkan. Ada juga pedagang yang benar-benar tidak tahu bahayanya penggunaan minyak jelantah. Hal ini dikarenakan kurangnya sosialisasi yang dilakukan kepada para pedagang mengenai bahaya minyak jelantah.

Dari segi pembeli

Biasanya pengguna minyak jelantah adalah warung-warung yang menyediakan harga miring untuk makanannya. Warung-warung ini banyak diminati oleh pekerja kantoran dan juga pelajar. Penghematan adalah salah satu alasan mereka memilih warung-warung tersebut kendati warung-warung tersebut menggunakan minyak jelantah yang berbahaya.
Jelantah yang bisa dikonsumsi
Kita dapat menggunakan minyak goreng yang kita pakai, tetapi maksinmal hanya 3 kali pemakaian. Minyak jelantah yang masih bisa digunakan adalah minyak jelantah yang masih jernih atau bening, berwarna kuning muda, dengan aroma masih segar khas minyak goreng. Minyak jelantah yang berwarna kental atau pekat dan aroma tengik sudah tidak layak digunakan sebagai miyak goreng. Minyak jelantah berwarna pekat sudah mengalami proses degradasi dan oksidasi yang menjadikan minyak tersebut bersifat toksik (beracun bagi tubuh manusia).
Memanfaatkan jelantah
Jika minyak jelantah sudah tidak bisa digunakan karena sudah berwarna pekat, lalu apa yang masih bisa kita lakukan agar minyak jelantah masih bisa dimanfaatkan. Sebagian dari kita mungkin merasa sayang untuk membuangnya begitu saja. Berdasarkan pandangan dari Safriadi dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), minyak jelantah dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif untuk kompor yang ramah lingkungan, karena termasuk dalam kelompok sumber energi nabati. Limbah minyak goreng berpotensi menjadi alternatif bahan bakar nabati yang ramah lingkungan dan mampu menurunkan 100% emisi gas buangan sulfur dan CO2 serta CO sampai 50%. Di kalangan orang tua jaman dulu pun, ada sebagian orang yang menggunakan lampu dengan minyak jelantah ini.

Daftar pustaka : http://www.suarakomunitas.net/?lang=id&rid=19&id=4074

Disusun oleh : Nama : Retno Palupi

NIM : A.102.06.024

Program : Reguler B

Tingkat/Smt : I / II

FESES

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dalam keadaan normal dua pertiga tinja terdiri dari air dan sisa makanan, zat hasil sekresi saluran pencernaan, epitel usus,bakteri apatogen, asam lemak, urobilin, gas indol, skatol dan sterkobilinogen. Pada keadaan patologik seperti diare didapatkan peningkatan sisa makanan dalam tinja, karena makanan melewati saluran pencernaan dengan cepat dan tidak dapat diabsorpsi secara sempurna bahan pemeriksaan tinja sebaiknya berasal dari defekasi spontan, jika pemeriksaan sangat diperlukan contoh tinja dapat diambil dengan jari bersarung dari rektum. Untuk pemeriksaan rutin dipakai tinja sewaktu dan sebaiknya tinja iiiperiksa dalam keadaan segar karena bila dibiarkan mungkin sekali unsur unsure dalam tinja menjadi rusak. Pemeriksaan tinja terdiri atas pemeriksaan makroskopik, mikroskopik dan kimia.

B. RUMUSAN MASALAH

Ø Apakah definisi feses ?

Ø Pemeriksaan apa saja yang digunakan ?

Ø Metode apa saja yang dipakai ?

Ø Bagaimana penyimpanan dan pengiriman feses ?

C. TUJUAN PENULISAN

· Mahasiswa dapat mengetahui definisi dan cara pemeriksaan feses

· Mahasiswa dapat mengerti cara menyimpan dan melakukan pengiriman feses.

BAB II

PEMBAHASAN

A. DEFINISI FESES

Tinja atau feses adalah produk buangan saluran pencernaan hewan yang dikeluarkan melalui anus atau kloaka. Pada manusia, proses pembuangan kotoran dapat terjadi (bergantung pada individu dan kondisi) antara sekali setiap satu atau dua hari hingga beberapa kali dalam sehari. Pengerasan tinja atau feses dapat menyebabkan meningkatnya waktu dan menurunnya frekuensi buang air besar antara pengeluarannya atau pembuangannya disebut dengan konstipasi atau sembelit. Dan sebaliknya, bila pengerasan tinja atau feses terganggu, menyebabkan menurunnya waktu dan meningkatnya frekuensi buang air besar disebut dengan diare atau mencret.

Bau khas dari tinja atau feses disebabkan oleh aktivitas bakteri. Bakteri menghasilkan senyawa seperti indole, skatole, dan thiol (senyawa yang mengandung belerang), dan juga gas hidrogen sulfida. Asupan makanan berupa rempah-rempah dapat menambah bau khas feses atau tinja.

B. PENGIRIMAN TINJA

Untuk mengirim tinja wadah yang digunakan sebaiknya adalah wadah yang terbuat dari kaca yang tidak bisa ditembus seperti plastik. Kalau konsistesni tinja keras,dos karton berlapis paraffin juga boleh dipakai. Wadah harus bermulut lebar.

C. PEMERIKSAAN TINJA

Pemeriksaan penting dalam tinja ialah terhadap parasit dan telur cacing. Sama pentingnya dalam keadaan tertentu adalah test darah samar.

Dalam keadaan normal dua pertiga tinja terdiri dari air dan sisa makanan, zat hasil sekresi saluran pencernaan, epitel usus, bakteri apatogen, asam lemak, urobilin, gas indol, skatol dan sterkobilinogen. Pada keadaan patologik seperti diare didapatkan peningkatan sisa makanan dalam tinja, karena makanan melewati saluran pencernaan dengan cepat dan tidak dapat diabsorpsi 3 secara sempurna

· Bahan pemeriksaan tinja sebaiknya berasal dari defekasi spontan

jika pemeriksaan sangat diperlukan contoh tinja dapat diambil dengan jari bersarung dari rektum.

· Untuk pemeriksaan rutin dipakai tinja sewaktu dan sebaiknya tinja diperiksa dalam keadaan segar karena bila dibiarkan mungkin sekali unsur unsure dalam tinja menjadi rusak. Pemeriksaan tinja terdiri atas pemeriksaan makroskopik, mikroskopik dan kimia.

D. PENANGANAN SAMPEL

Jika akan memeriksa tinja pilihlah bagian tinja yang memberikan kemungkinan sebesar besarnya untuk menemui kelainan misalnya, bagian yang bercampur darah atau ledir. Oleh karena itu unsure – unsure patologik tidak terdapat merata, maka hasil pemeriksaan mikroskopis tidak dapat dinilai kepositifannya dengan tepat.

E. PEMERIKSAAN MAKROSKOPIK

Pemeriksaan makroskopik tinja meliputi pemeriksaan:

1. Jumlah

2. Konsistensi

3. Warna

4. Bau

5. Darah

6. Lendir

7. Parasit

v Jumlah

Dalam keadaan normal jumlah tinja berkisar antara 100-250 gram per hari. Banyaknya tinja dipengaruhi jenis makanan ,bila banyak makan sayur jumlah tinja meningkat.

v Konsistensi

Tinja normal mempunyai konsistensi agak lunak dan berbentuk.

Pada diare konsistensi menjadi sangat lunak atau cair,sedangkan sebaliknya tinja yang keras atau skibala didapatkan pada konstipasi. Peragian karbohidrat dalam usus menghasilkan tinja yang lunak dan bercampur gas.

v Warna

Tinja normal kuning coklat dan warna ini dapat berubah mejadi lebih tua dengan terbentuknya urobilin lebih banyak. Selain urobilin warna tinja dipengaruhi oleh :

Ø Berbagai jenis makanan

Ø Kelainan dalam saluran pencernaan

Ø Obat yang dimakan.

- Warna kuning dapat disebabkan karena susu,jagung, lemak dan obat santonin.

- Tinja yang berwarna hijau dapat disebabkan oleh sayuran yang mengandung khlorofil atau pada bayi yang baru lahir disebabkan oleh biliverdin dan porphyrin dalam mekonium.

- Kelabu mungkin disebabkan karena tidak ada urobilinogen dalam saluran pencernaan yang didapat pada ikterus obstruktif, tinja tersebut disebut akholis.Keadaan tersebut mungkin didapat pada defisiensi enzim pankreas seperti pada steatorrhoe yang menyebabkan makanan mengandung banyak lemak yang tidak dapat dicerna dan juga setelah pemberian garam barium setelah pemeriksaan radiologik.

- Tinja yang berwarna merah muda dapat disebabkan oleh perdarahan yang segar dibagian distal, mungkin pula oleh makanan seperti bit atau tomat.

- Warna coklat mungkin disebabkan adanya perdarahan dibagian proksimal saluran pencernaan atau karena makanan seperti coklat, kopi dan lain-lain.

- Warna coklat tua disebabkan urobilin yang berlebihan seperti pada anemia hemolitik.

- Sedangkan warna hitam dapat disebabkan obat yang yang mengandung besi, arang atau bismuth dan mungkin juga oleh melena.

v Bau

Indol, skatol dan asam butirat menyebabkan bau normal pada tinja.

Bau busuk didapatkan jika dalam usus terjadi pembusukan protein yang tidak dicerna dan dirombak oleh kuman. Reaksi tinja menjadi lindi oleh pembusukan semacam itu.

Tinja yang berbau tengik atau asam disebabkan oleh peragian gula yang tidak dicerna seperti pada diare. Reaksi tinja pada keadaan itu menjadi asam.

v Darah

Adanya darah dalam tinja dapat berwarna merah muda,coklat atau hitam.

Darah itu mungkin terdapat di bagian luar tinja atau bercampur baur dengan tinja. Pada perdarahan proksimal saluran pencernaan darah akan bercampur dengan tinja dan warna menjadi hitam, ini disebut melena seperti pada tukak lambung atau varices dalam oesophagus.

Sedangkan pada perdarahan di bagian distal saluran pencernaan darah terdapat dibagian luar tinja yang berwarna merah muda yang dijumpai pada hemoroid atau karsinoma rektum.

v Lendir

Dalam keadaan normal didapatkan sedikit sekali lendir dalam tinja.

Terdapatnya lendir yang banyak berarti ada rangsangan atau radang pada dinding usus. Kalau lendir itu hanya didapat di bagian luar tinja, lokalisasi iritasi itu mungkin terletak pada usus besar. Sedangkan bila lendir bercampur baur dengan tinja mungkin sekali iritasi terjadi pada usus halus. Pada disentri, intususepsi dan ileokolitis bisa didapatkan lendir saja tanpa tinja.

v Parasit

Diperiksa pula adanya cacing ascaris, anylostoma dan lain-lain yang mungkin didapatkan dalam tinja.

F. PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS

Pemeriksaan mikroskopik meliputi pemeriksaan protozoa,telur cacing, lekosit, eritosit, sel epitel, kristal dan sisa makanan. Dari semua pemeriksaan ini yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap protozoa dan telur cacing.

1. Protozoa

Biasanya didapati dalam bentuk kista, bila konsistensi tinja cair baru didapatkan bentuk trofozoit. Telur cacing yang mungkin didapat yaitu Ascaris lumbricoides, Necator americanus, Enterobius vermicularis, Trichuris trichiura, Strongyloides stercoralis dan sebagainya.

2. Lekosit

Dalam keadaan normal dapat terlihat beberapa leukosit dalam seluruh sediaan. Pada disentri basiler, kolitis ulserosa dan peradangan didapatkan peningkatan jumlah leukosit.

3. Eosinofil

Eosinofil mungkin ditemukan pada bagian tinja yang berlendir pada penderita dengan alergi saluran pencernaan.

4. Eritrosit

Hanya terlihat bila terdapat lesi dalam kolon, rektum atau anus.Sedangkan bila lokalisasi lebih proksimal eritrosit telah hancur. Adanya eritrosit dalam tinja selalu berarti abnormal.

5. Epitel

Dalam keadaan normal dapat ditemukan beberapa sel epitel yaitu yang berasal dari dinding usus bagian distal. Sel epitel yang berasal dari bagian proksimal jarang terlihat karena sel ini biasanya telah rusak. Jumlah sel epitel bertambah banyak kalau ada perangsangan atau peradangan dinding usus bagian distal.

6. Kristal

Kristal dalam tinja tidak banyak artinya. Dalam tinja normal mungkin terlihat kristal tripel fosfat, kalsium oksalat dan asam lemak. Kristal tripel fosfat dan kalsium oksalat didapatkan setelah memakan bayam atau strawberi, sedangkan kristal asam lemak didapatkan setelah banyak makan lemak. Sebagai kelainan mungkin dijumpai kristal Charcoat Leyden

7. Sisa makanan

Hampir selalu dapat ditemukan juga pada keadaan normal, tetapi dalam keadaan tertentu jumlahnya meningkat dan hal ini dihubungkan dengan keadaan abnormal.

Sisa makanan sebagian berasal dari makanan daun-daunan dan sebagian lagi berasal dari hewan seperti serat otot, serat elastic dan lain-lain. Untuk identifikasi lebih lanjut emulsi tinja dicampur dengan larutan lugol untuk menunjukkan adanya amilum yang tidak sempurna dicerna. Larutan jenuh Sudan III atau IV dipakai untuk menunjukkan adanya lemak netral seperti pada steatorrhoe. Sisa makanan ini akan meningkat jumlahnya pada sindroma malabsorpsi.

G. PEMERIKSAAN KIMIA

Pemeriksaan kimia tinja yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap darah samar

· Tes terhadap darah samar untuk mengetahui adanya perdarahan kecil yang tidak dapat dinyatakan secara makroskopik atau mikroskopik.

· Adanya darah dalam tinja selalau abnormal.

· Pemeriksaan darah samar dalam tinja dapat dilakukan dengan menggunakan tablet reagens.

· Prinsip pemeriksaan ini hemoglobin yang bersifat sebagai peroksidase akan menceraikan hidrogen peroksida menjadi air dan 0 nascens (On). On akan mengoksidasi zat warna tertent yang menimbulkan perubahan warna

· Tablet Reagens banyak dipengaruhi beberapa faktor terutama pengaruh makanan yang mempunyai aktifitas sebagai peroksidase sering menimbulkan reaksi positif palsu seperti daging, ikan sarden dan lain lain.

· Menurut kepustakaan, pisang dan preparat besi seperti ferrofumarat dan ferro carbonat dapat menimbulkan reaksi positif palsu dengan tablet reagens. Maka dianjurkan untuk menghindari makanan tersebut diatas selama 3--4 hari sebelum dilakukan pemeriksaan darah samar

Test terhadap darah samar penting untuk mengetahui adanya pendarahan kecil yang tidak dapat dinyatakan secara makroskopis dan mikroskopis.

a. Cara dengan Benzidine Basa

1. Buatlah emulsi tinja dengan air atau dengan larutan garam kira-kira 10 ml dan panasi hingga mendidih.

2. Saring emulsi yang masih panas itu dan biarkan filtrat menjadi dingin kembali.

3. Kedalam tabung reaksi lain masukkan benzidine basa sebanyak sepucuk pisau.

4. Tambah 3 ml asam acetat glasial, kocok sampai benzidine larut dengan meninggalkan beberapa kristal.

5. Bubuhi 2 ml filtrat emulsi tinja, campur.

6. Beri 1 ml larutan hidrogen peroksida 3%.

7. Baca hasil dalam waktu 5 menit.

8. Interprestasi hasil :

( - ) tidak ada perubahan warna atau warna yang samar- samar hijau

(+1) hijau

(+2) biru bercampur hijau

(+3) biru

(+4) biru tua

b. Cara dengan Guajac

1. Buat emulsi tinja sebanyak 5 ml dalam tabung reaksi dan tambah 1 ml asam acetat glasial, campur.

2. Dalam tabung reaksi lain masukkan sepucuk pisau serbuk guajac dan 2 ml alkohol 95 %, campur.

3. Tuang dengan hati-hati isi tabung kedua kedalam tabung yang berisi tinja sehingga kedua jenis campuran tetap sebagai lapisan terpisah.

4. Hasil positif terlihat dari warna biru yang terjadi pada kedua lapisan itu.

Pemeriksaan urobilin

1. Taruhlah beberapa gram tinjadalam sebuah mortir dan campur dengan larutan mercuri chlorida 10% yang volumenya sama banyak dengan tinja itu.

2. Campur baik-baik dengan alunya.

3. Tuang bahan itu kedalam cawan datar agar mudah menguap dan biarkan selama 6 sampai 24 jam.

4. Adanya urobilin nyata oleh timbul warna merah.

Pemeriksaan bilirubin akan beraksi negatif pada tinja normal, karena bilirubin dalam usus akan berubah menjadi urobilinogen dan kemudian oleh udara akan teroksidasi menjadi urobilin. Reaksi mungkin menjadi positif pada diare dan pada keadaan yang menghalangi perubahan bilirubin menjadi urobilinogen, seperti pengobatan jangka panjang dengan antibiotik yang diberikan peroral, mungkin memusnakan flora usus yang menyelenggarakan perubahan tadi. Dalam tinja normal selalu ada urobilin. Jumlah urobilin akan berkurang pada ikterus obstruktif, jika obstruktif total hasil tes menjadi negatif, tinja berwarna kelabu disebut akholik.

Penetapan kuantitatif urobilinogen dalam tinja memberikan hasil yang lebih baik jika dibandingkan terhadap tes urobilin, karena dapat menjelaskan dengan angka mutlak jumlah urobilinogen yang diekskresilkan per 24 jam sehingga bermakna dalam keadaan seperti anemia hemolitik dan ikterus obstruktif. Tetapi pelaksanaan untuk tes tersebut sangat rumit dan sulit karena itu jarang dilakukan di laboratorium. Bila masih diinginkan penilaian ekskresi urobilin dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan urobilin urine.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Tinja atau feses adalah produk buangan saluran pencernaan hewan yang dikeluarkan melalui anus atau kloaka.

Unsur-unsur dalam feses dapat diamati dengan melakukan pemeriksaan makroskopis, mikroskopis, dan kimia.

B. SARAN

Pemeriksaan feses penting untuk dilakukan untuk mengetahui unsure-unsur yang terdapat di dalamnya, selain itu pemeriksaan feses dapat mendukung diagnose pemeriksaan yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Bauer JD, Ackerman PG, Toro G. Clinical Laboratory Methods, 8 , ed, Saint Louis : The CV Mosby Company. p. 538.

Gandasoebrata R. Penuntun Laboratorium Klinic, cetakan k-4 , Penerbit Dian Rakyat 1970 ; p 152.

Hepler OE, Manual of Clinical Laboratory Methods, 4 , ed. SprinfieldIllinois USA: Charles C Thomas Publisher 1956; p 124.

Hyde TA, Mellor LD, Raphael SS. Gastrointestinal tract in MedicalLaboratory Technology . ed, Raphael SS, Lynch, MJG (eds),Philadelphia: WB Saunders Company, 1976: p. 209.

Hematest, Leaflet ; Ames Company, Division Miles Laboratory

asam nitrat

ASAM NITRATyellowsolid_350

I. RUMUS KIMIA

HNO3

II. KEGUNAAN

Diberikan di bawah ini adalah daftar asam nitrat digunakan dalam berbagai bidang - panjang dari yang akan memberi Anda gambaran kasar tentang pentingnya bagi umat manusia :

1. Dalam teknik aerospace, asam nitrat secara luas digunakan sebagai oksidator dalam roket berbahan bakar cair

2. Dalam industri bahan peledak, digunakan untuk bahan peledak manufaktur seperti TNT, kapas pistol, nitro gliserin, dll

3. Dalam produksi pupuk, digunakan untuk pupuk manufaktur seperti kalsium nitrat, amonium nitrat, dll

4. Asam nitrat ini juga digunakan dalam pembuatan garam nitrat seperti nitrat amonium, perak nitrat, kalsium nitrat, dll

5. Asam ini banyak digunakan dalam bidang kimia sebagai reagen laboratorium

6. Asam ini digunakan dalam pembuatan pewarna dan obat-obatan dari berbagai produk tar batubara

7. Asam ini digunakan untuk pemurnian berbagai logam mulia termasuk emas, perak platinum, dll

8. Dalam metalurgi, digunakan dalam kombinasi dengan alkohol untuk mengetsa desain pada logam seperti kuningan, perunggu tembaga, dll

9. Asam ini juga digunakan dalam penyusunan aquaregia di mana elemen mulia yang dibubarkan

10. Dalam konsentrasi yang sangat rendah, digunakan untuk memalsukan umur pinus dan kayu maple

11. Asam nitrat dengan campuran air digunakan untuk membersihkan makanan dan peralatan susu karena kemampuannya untuk menghapus endapan senyawa kalsium dan magnesium dengan mudah

12. Asam ini juga digunakan secara luas dalam pengujian kolorimetri untuk menentukan perbedaan antara heroin dan morfin

III. PROSEDUR PEMERIKSAAN

Timbang seksama lebih kurang 2 ml dalam labu Erlenmeyer bersumbat kaca yang telah ditara, tambah 25 ml air. Titrasi dengan natrium hidroksida 1 N LV menggunakan indicator merah metil LP.

1 ml natrium hidroksida 1 N ≈ 63,01 mg HNO3

IV. REAKSI KIMIA

HNO3 + NaOH è NaNO3 + H2O

V. DAFTAR PUSTAKA

Panitia Farmakope Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan RI. (halaman 50)

Sabtu, 21 Mei 2011

Pengecatan Spora

PENGECATAN SPORA


I. Tujuan

Untuk mengetahui adanya dan letak spora pada sel bakteri.

II. Dasar teori

Spora dibentuk oleh jenis bakteri tertentu terutama genus bacillus dan Clostridium. Pada umumnya spora terdapat di dalam spora ( endospora) dengan letak dan ukuran yang berbeda. Spora pada bakteri dibentuk saat kondisi secara kimiawi dan kimiawi yang kurang menguntungkan misalnya nutrisi, sinar, panas dan kering. Macam metode pengecatan yang digunakan untuk melihat spora yaitu Schaeffer-fulton, Bartolomew-Mittwer, klein dan Donner. Pewarnaan spora dapat dugunakan untuk membantu indentifikasi bakteri.

III. Alat dan bahan

-        Gelas benda, lampu spirtus, mikroskop

-        Jarum ose

-        Akuadest steril

-        Biakan murni : staphilococcus aureus, bacillus subtilis

-        Cat : safranin dan malachit green

IV. Cara Kerja

   1. Metode Schaeffer Fulton

Cara kerja :

   1. Bersihkan gelas benda dengan alkohol agar bebas dari lemak.
   2. Buat preparat smear dari biakn yang ada secara yang aseptic.
   3. Preparat smear itu dikering udarakan.
   4. Lakukan fiksasi di atas lampu spirtus.
   5. Letakkan preparat smear pada rak pengecatan lalu tetesi 2-3 tetes malachite green 5% dan biarkan selama 1 menit, lalu dipanaskan di atas nyala lampu spirtus selama setengan menit atau kira-kira sampai timbul uap, jangan sampai mendidih lalu di dinginkan.
   6. Cuci dengan air mengalir lalu tiriskan.
   7. Tetesi dengan cat safranin selama 1 menit.
   8. Cuci dengan air mengalir.
   9. Preparat dikering udaran, dapat menggunakan kertas serap untuk menyerap air pada permukaan.
  10.  Amati preparat di bawah mikroskop dengan obyektif 100  ( memakai minyak imersi).
  11.  Gambar hasil pengamatan.

   2.  Metoden Bartolomew-Mittwer

Cara kerja :

   1. Bersihkan gelas benda dengan alkohol agar bebas dari lemak.
   2. Buat preparat smear dari biakn yang ada secara yang aseptic.
   3. Preparat smear itu dikering udarakan.
   4. Lakukan fiksasi di atas lampu spirtus.
   5. Letakkan preparat smear pada rak pengecatan lalu tetesi 2-3 tetes malachite green 5% dan biarkan selama 10 menit.
   6. Cuci dengan air mengalir lalu tiriskan.
   7. Tetesi dengan cat safranin selama 1 menit.
   8. Cuci dengan air mengalir.
   9. Preparat dikering udaran, dapat menggunakan kertas serap untuk menyerap air pada permukaan.
  10.  Amati preparat di bawah mikroskop dengan obektif 100 ( memakai minyak imersi).
  11.  Gambar hasil pengamatan

V. Hasil pengamatan



VI.Evaluasi

   1. Jelaskan mengapa spora bakteri lebih resisten daripada sel vegetatif terhadap faktor lingkungan?

Jawab : karena mempunysi struktur  yang kompleks:

    * Eksospora
    * Kulit spora : tahan terhadap zat kimia
    * Kortex        :lapisan paling tebal
    * Core           : tahan terhadap panas

   2. Sebutkan perbedaan dan persamaan dari kedua jenis pengecatan tersebut!

Jawab : persamaan : cat yang digunakan sama yaitu malachite green dan safranin

Perbedaan : Metode schaeffer fulton : dilakukan pemanasan saat setelah ditetesi    malachite green, sedangkan Metoden Bartolomew-Mittwer tidak dilakukan pemanasan ,  hanya ditunggu 10 menit

   3. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi pengecatan spora!

Jawab:

   1. Fiksasi
   2. Smear terlalu tebal
   3. Waktu pengecatan tidak tepat
   4. Konsentrasi reaagen
   5. Umur bakteri
   6. nutrisi

   4. Sebutkan 2 species bakteri yang berspora!

Jawab: Staphilococcus aureus, Bacillus subtilis



DAFTAR PUSTAKA

http://dwipoenya.wordpress.com/2010/11/05/pewarnaan-spora/

Jumat, 20 Mei 2011

TREMATODA


Trematoda
Cacing daun adalah cacing yang termasuk kelas Trematoda filum Platyhelminthes dan hidup sebagai parasit. Pada umumnya cacing ini bersifat hermaprodit kecuali cacing Schistosoma, mempunyai batil isap mulut dan batil isap perut (asetabulum). Spesies yang merupakan parasit pada manusia termasuk subkelas DIGENEA, yang hidup sebagai endoparasit.

Trematoda dapat diklasifikasikan menjadi 2 golongan, yaitu :
A.   Trematoda kelamin terpisah (jantan dan betina)
1. Schistosoma haematobium
2. Schistosoma mansoni
3. Schistosoma japonicum
B.   Trematoda kelamin menjadi satu (hermaprodit)
1. Fasciola hepatica
2. Fasciolopsis buski
3. Paragonimus westermani
4. Clonorchis sinensis

Sifat dan Morfologi
1.   Trematoda dalam reproduksinya terdapat 2 fase, yaitu :
a. Fase seksual pada Definitive host
b. Faee aseksual pada intermediet host
2.   Tidak bersegmen.
3.   Mempunyai isap anterior (asetabulum) dimana saluran cerna bermuara.
4.   Mempunyai kait atau duri.
5.   Mempunyai kulit aselluler, mungkin imempunyai duri atau gerigi.
6.   Batil isap ventral untuk melekatkan diri, pada beberapa spesies terletak di posterior.
7.   Mempunyai porus genitalis dan letaknya berbeda-beda.
8.   Batil isap genital kadang-kadang merupakan alat tambahan (seperti pada Heterophyes).
9.   Bentuk saekum (usus besar) bercabang dua sehingga menyarupai bentuk huruf “Y” terbalik.


Siklus Hidup Secara Umum
1.   Telur beroperkulum dalama feses atau sputum masuk ke air.
2.   Ovum menetap dalam air.
3.   Ovum menetas dan berkembang biak menjadi mirasidium yang memepunyai masa hidup sebentar, yaitu +- 48 jam.
4.   Mirasidium menembus kepala alat peraba atau kaki keong atau ovum termakan oleh keong dan menetas di dalam tubuh keong.



Hospes
     Berbagai macam hewan yang dapat berperan sebagai hospes definitive cacing trematoda, antara lain : kucing, kambing, sapi, tikus, babi, burung, luak, harimau, dan manusia.
     Menurut tempat hidup cacing dewasa dalam tubuh hospes, maka trematoda dapat dibagi dibagi dalam :
1.   Trematoda hati (liver flukes) : Clonorchis sinensis, Opisthorchis felineus, Opisthorchis  viverrini, dan Fasciola
2.   Trematoda usu (intestinal flukes) : Fasciolopsis buski, ECHINOSTOMATIDAE dan HETEROPHYDAE
3.   Trematoda paru (lung flukes) : Paragonimus wetermani
4.   Trematoda darah (blood fluke) : Schistosoma japonicum, Schistosoma mansoni, dan Schistosoma haematobium

Distribusi geografik
     Pada umunya cacingtermatoda ditemukan di RRC, Korea, Jepang, Filiphina, Thailand, Vietnam, Taiwan, India, dan Afrika. Beberapa spesies ditemukan di Indonesia seperti Fasciolopsis buski di Kalimantan, Echinostoma di Jawa dan Sulawesi, HETEROPHYDAE di Jakarta dan Schistosoma japonicum di Sulawesi Tengah.

Morfologi dan Daur Hidup
     Pada umumnya bentuk badan cacing dewasa pipih drsoventral dan simetris bilateral, tidak mempunyai rongga badan. Ukuran panjang cacing dewasa sangat beranekaragam dari 1 mm sampai kurang lebih 75 mm. Tanda khas lainnya adalah terdapatnya 2 buah batil isap, yaitu batil isap mullut dan batil isap perut. Beberapa species mempunyai batil isap genital. Saluran pencernaan menyerupai huruf “Y” terbalik yang dimulai dengan mulut dan berakhir buntu pada saekum. Pada umumnya Trematoda tidak mempunyai alat pernafasan khusus karena hidupnya secara anaerob. Saluran ekskresi terdapat simetris bilateral dan berakhir di bagian posterior. Susunan saraf dimulai dengan ganglion di bagian dorsal esophagus, kemudian terdapat saraf yang memanjang di bagian dorsal ventral dan lateral badan. Cacing ini bersifat hermaprodit dengan alat reproduksi yang kompleks.
     Cacing dewasa hidup di dalam tubuh hospes definitive. Telur diletakkan di saluran hati, rongga usus, paru, pembuluh darah atau jariingan tempat cacing hidup dan telur biasanya keluar bersama tinja, dahak, atau urine. Pada umunya telur berisi sel telur , hanya beberapa spesies telur sudah mengandung mirasidium (M) yang mempunyai bulu getar. Di dalam air, telur menetas bila sudah mengandung mirasidium (telur matang). Pada spesies trematoda yang mengeluarkan telur berisi sel telur, telur akan menjadi matang dalam waktu kurang lebih 2-3minggu. Pada beberapa spesies Trematoda, telur matang menetas bila ditelan keong (hospes perantara) dan keluarlah mirasidium yang masuk ke dalam jaringan keong, atau telur dapat langsung menetas dan mirasidium berenang di air, dalam waktu 24 jam mirasidium harus sudah menemukan keogn air agar dapat melanjutkan perkembangannya. Keong air di sini berfungsi sebagai hospes perantara pertama (HP I). dalam keong air tersebut mirasidium berkembang menjadi sebuah kantung yang berisi embrio, disebut sporokista (S). sporokista ini dapat mengandung sporokista lain atau redia (R), bentuknya berupa kantung yang sudah mempunyai mulut, farinf, dan saekum. Di dalam sporokista II atau redia (R), larva berkembang menjadi serkaria (SK).
Perkembangan larva dalam hospes pertantara I mungkin terjadi sebagai berikut :
M è S è R è SK          : misalnya Clonoschis sinensis
M è S1 è S2 è SK        : misalnya Schistosoma
M è S è R1 è R2 è SK    : misal trematoda lainnya
Serkaria kemudian keluar dari keong air dan mencari hospes perantara II yang berupa ikan, tumbuh-tumbuhan air, ketam, udang batu dan keong air lainnya, atau dapat menginfeksi hospes definitive secara langsung seperti pada Schistosoma. Dalam hospes perantara II serkaria berubah menjadi metaserkaria yang berbentuk kista. Hospes definitive mendapat infeksi apabila makan hospes perantara II yang mengandung metaserkaria yang tidak dimasak dengan baik. Infeksi cacing Schistosoma terjadi dengan cara serkaria menembus kulit hospes definitive, yang kemudian berubah menjadi skistosomula, lalu berkembang menjadi cacing dewasa dalam tubuh hospes

Diagnosis
     Diagnosis dibuat dengan menemukan telur dalam tinja, dahak, urine atau dalam jaringan biopsy, dapat pula dengan reaksi serologi untuk membantu menegakkan diagnose.

Prognosis
     Pada umunya bila penyakit belum mencapai stadium lanjut dengan fibrosis alat vital seperti jantung, hati , dan lain-lain, prognosis adalah baik bila diberi pengobatan dini.

Epidemiologi
     Kebiasaan memakan HP II yang mengandung metaserkaria yang tidak dimasak dengan baik merupakan factor penting demi transmisi penyakit, kecuali pedal skistosomiasis yang infeksinya terjadi karena manusia mandi, mencuci atau masuk ke dalam air seperti kali atau parit yang mengandung serkaria.




Paragonimus westermani
Paragonimus westermani mempunyai kesamaan spesies, yaitu : Distema westermani, oriental Lung Flukes, Paragonimus ringeri. Penyebaran geografisnya di Asia Timur, Asia Tenggara termasuk Indonesia, Afrika dan Amerika Selatan.
Spesies-spesies yang lain adalah : P. alfricanus (afrika), P. mexicanus (mexico dan amerika latin), P. uterobilaterallio (Nigeria), dan P. kellicotti (Jepang)

Morfologi :
1.   Berbentuk ovoid seperti biji kopi
2.   Mempunyai ukuran 7-12 x 4-6 mm
3.   Warna yang segar adalah coklat kemerahan, sedangkan bila diawetkan adalah abu-abu
4.   Kutikula mempunyai sisik-sisik kecil
5.   Batil isap oral hampit sama besar dengan batil isap ventral
6.   Testis terdiri dari 2 lobus di bagian posterior kanan dan kiri
7.   Genital pore : posterior dari batil isap ventral
8.   Ovarium berlobus, terletak di kiri agak ke belakang dari batil isap ventral
9.   Uterus di sebelah kanan agak di muka ovarium
10.           Vitellaria di lateral kanan dan kiri, berupa folikel-folikel yang kecil
11.           Telur :
·         Ukuran 80-120 x 40-6 mikron
·         Warna coklat keemasan
·         Operculum jelas
·         Terdapat penebalan di bagian ujung lain

Siklus hidup
1.   Habitat cacing dewasa, yaitu dalam paru-paru dari definitive host (manusia dan carnivora)
2.   Telur dikeluarkan bersama sputum atau bila sputum ini tertelan, maka telur dijumpai dalam feses
3.   Bila telur dalam air, maka perlu beberapa minggu untuk menetas menjadi mirasidium
4.   Mirasidium mencari intermediate host pertama yaitu snail dari genus :
-          Semisulecopira, Thiora, Pomaoea, Pomatiopsis. Dan perkembangan dalam tubuh snail seperti pada Fasciola hepatica, yaitu : Sporokista redia I – redia II dan akhirnya serkaria
5.   Serkaria selanjutnyakeluar dari snail mencari i.m II atau snail tersebut yang dimakan i.m II, dan sebagai i.m II adalah : kepiting air tawar, udang air tawar. Dalam kepiting/udang tersebut parasit mengadakan onklotani menjadi metaserkaria (jumlah -+ 3000)
6.   Bila kepiting/udang dimakan i.m II maka metaserkaria mengadakan enkistasi, selanjutnya menembus dinding usus menuju berturut-turut : cavum abdomen, diafragma, cavum pleurae dan akhirnya paru-paru. Perjalanan ini memerlukan waktu +-20 hari
Dalam paru-paru berubah menjadi cacing dewasa dalam waktu 5-6minggu. Kadang-kadang cacing tidak dapat mencapai paru-paru, tetapi terhenti dalam perjalanan dan disebut “Ectopic Focus”

Skema Siklus Hidup
Telur dikeluarkan dalam sputum atau tertelan dan dikeluarkan dalam tinja/feses è telur matang dalam air dan menetas dalam 20 hari menjadi mirasidium è mirasidium berkembang menjadi sporokista è redia I è redia II è berkembang menjadi serkaria è keluar dari snail/siput è enkistasi pada i.m atau hopes perantara II (kepiting/udang) è eksistasi dalam usus halus è menetap dalam paru-paru. Dan yang tidak dapat mencapai paru-paru disebut “Ectopic Focus”
Dengan catatan bahwa :
-          Manusia mendapat infeksi dengan jalan makan kepiting/udang yang tidak dimasak
-          Pada ibu-ibu rumah tangga/koki-koki, infeksi diperoleh dengan cara kontaminasi dari jari kuku waktu mencicipi makanan sebelum masak

Patologi
1.   Invasi sedikit berpengaruh pedal hospes
2.   Dalam paru-paru :
-          Reaksi jaringan mengakibatkan pembentukan kapsul jaringan fibrosa (berwarna biru bersih) yang mengandung : cacing (umunya berpasangan), telur, dan infiltrate radang. Berhubungan dengan jalan pernafasan. Komplikasi sekunder kista paru, bronkiektasis, pembentukan abses dan sering terjadi TB
3.   Pedal tempat ektopik ; kista yang sama dapat ditemukan dimana-mana dalam tubuh
4.   Manifestasi umu adalah eosinofilia
5.   Keluhan :
-          Batuk-batuk disertai sputum
-          Hemoptisis
-          Nyeri local
-          Keluar keringat pada malam hari

 Diagnose
1.   Dengan ditemukannya telur dalam sputum, cairan pleura
2.   Serologis :
-          Complement fication test
-          Intradermal test

Pencegahan
-          Memasak kepiting/udang dengan baik
-          Cuci tangan yang bersih terutama bagi ibu-ibu/koki-koki



DAFTAR PUSTAKA

è Soejoto Dkk. 1989. Parasitologi Medik Helminthologi Jilid 2. Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Depkes RI. Jakarta. (Halaman 96 Dan Halaman 107-109).
 è Staf Pengajar Bagian Parasitologi FKUI. 1998. Parasitologi Kedokteran Edisi Ketiga. Gaya Baru. Jakarta (Hal. 51-53)

PROTEIN


PROTEIN

Pencernaan protein dimulai di :
1.   Di lambung, Hydrochloric acid (HCL) menguraikan rangkaian protein (denaturasi protein) dan mengaktifkan enzim pepsinogen menjadi pepsin. Pepsin lalu menguraikan protein menjadi polipeptida kecil dan beberapa asam amino bebas.

2.   Di usus kecil, polipeptida diuraikan menjadi asam amino dengan menggunakan enzim pankreas dan intestinal protease:
a.    Trypsin à menguraikan ikatan peptida menjadi asam amino lysine dan arginine.
b.   Chymotrypsin à menguraikan ikatan peptoda menjadi asam amino phenylalanine, tyrosine, tryptophan, methionine, asparagine, dan histidine.
c.   Carboxypeptidase à menguraikan asam amino  dari ujung karboksil polipeptida.
d.   Elastase dan collagenase à menguraikan polipeptida menjadi polipeptida yang lebih kecil dan tripeptida. Dan enzim yang ada di permukaan sel dinding usus halus yaitu :
i)   Intestinal tripeptidase à menguraikan tripeptida menjadi dipeptida dan asam amino.
ii)                       Intestinal dipeptidase à menguraikan tripeptida menjadi asam amino.
iii)                  Intestinal aminopeptidase à menguraikan asam amino dari ujung amino polipeptida kecil.

3.   Setelah itu, asam amino diserap oleh dinding usus, lalu diangkut ke sel, dimana asam amino tersebut dilepaskan ke dalam darah.

4.   Kelebihan protein tidak disimpan dalam tubuh, melainkan akan dirombak dalam hati menjadi senyawa yang mengandung unsur N, seperti NH3 (amonia) dan NH4OH (amonium hidroksida) serta senyawa yang tidak mengandung unsur N. Senyawa yang mengandung unsur N akan disintesis menjadi urea  di hati, karena hati mempunyai enzim arginase. Urea diangkut bersama zat-zat sisa lainnya ke ginjal untuk dikeluarkan melalui urin. Senyawa yang tidak mengandung unsur N akan disintesis kembali.



METABOLISME PROTEIN:
Protein turn-over dan amino acid pool :
Protein dalam tubuh bersifat dinamis, selalu ada sintesis dan degradasi. Di dalam setiap sel, protein secara kontinu dibuat dan diuraikan, proses ini disebut protein turn-over. Saat protein diuraikan, asam amino dibebaskan. Asam amino ini bercampur dengan asam amino dari dietary protein membentuk amino acid pool di dalam sel dan peradaran darah.

Nitrogen Balance:
1.   Negatif  jika N out > N in
2.   Positif  jika N out < N in
3.   Zero jika N out = N in 


ANABOLISME
1.   SINTESIS PROTEIN TRANSKRIPSI
Sintesis mRNA dari salah satu rantai DNA, yaitu rantai cetakan atau sense. RNA dihasilkan dari aktivitas enzim RNA polimerase. Enzim ini membuka pilinan kedua rantai DNA hingga terpisah dan merangkainkan nukleotida RNA dari arah 5’ ke 3’. Inisiasi Daerah DNA dimana RNA polimerase melekat dan mengawali transkripsi disebut promoter. Elongasi Pilinan heliks ganda DNA terbuka secara berurutan. Setelah sintesis RNA berlangsung, DNA heliks ganda terbentuk kembali dan molekul RNA baru akan lepas dari cetakan DNA-nya. Terminasi RNA polimerase mencapai titik akhir.  TRANSLASI Proses mRNA mengarahkan serangkaian asam amino dan sintesis protein. Inisiasi Terjadi dengan adanya mRNA, sebuah RNAt yang memuat asam amino pertama dari polipeptida dan 2 subunit RNAr. Pertama, subunit ribosom kecil mengikatkan diri pada RNAd dan RNAt inisiator. Pada mRNA terdapat kodon inisiasi AUG (start codon), yang memberi sinyal dimulainya proses translasi. RNAt inisiator yang membawa asam amino metionin, melekat pada kodon inisiasi AUG. Elongasi Asam amino-asam amino berikutnya ditambahkan satu persatu pada asam amino pertama (metionin). Molekul RNAr dari subunit ribosom besar berfungsi sebagai enzim, yaitu mengkatalis pembentukan ikatan peptida yang menggabungkan polipeptida yang memanjang ke asam amino yang baru tiba. Terminasi Elongasi berlanjut terus hingga ribosom mencapai kodon stop (UAA, UAG, atau UGA). Kodon stop hanya bertindak sebagai sinyal untuk menghentikan translasi. Akhirnya, rantai protein terbentuk.

2.   SINTESIS ASAM AMINO NON ESSENSIAL
a.   Transamination of α-keto acids Pyruvate  Alanine Oxaloacatate Aspartate α-keto glutarat    Glutamate
b.   Amidation Glutamate   Glutamine by glutamine synthetase Aspartate   Asparagine by asparagine synthetase
c.   Synthesis from other amino acids 3-phospoglycerate 3-phospopyruvate  serine Glutamate   prolin  by cyclization and reduction reactions Serine glycine by removal of hydroxymethil group and by hydroxymethyl transferase Metionin cysteine Fenilalanin tyrosine by phenylalanine hydroxylase.





 
KATABOLISME :
1.   KATABOLISME NITROGEN ASAM AMINO à UREA (removal of α-amino group)
a.   Transaminasi
Semua asam amino, kecuali lysine, threonine, proline, dan hydroxyproline, mengalami transaminasi. Dalam transaminasi, grup α-amino dihilangkan. Enzim alanine aminotransferase: Enzim glutamate aminotransferase: Pyruvate  α-amino acid α-ketoglutarat α-amino acid   L-alanine  α-keto acid   L-glutamate  α-keto acid
b.   Deaminasi oksidatif
Menggunakan enzim L-glutamate dehydrogenase:   NAD+  NADH,  NH3, Glutamate, α-ketoglutarate, dehydrogenase. Glutamate       NH3  NADP+  NADPH
c.   Transpor ammonia
i)   Di kebanyakan jaringan Glutamine synthetase mengubah kombinasi amonia dan glutamate menjadi glutamine (bentuk transpor amonia yang tidak beracun). Glutamine lalu ditranspor oleh darah ke hati, dimana glutamine diuraikan oleh glutaminase menjadi glutamate dan amonia bebas.
ii)                       Di otot Hasil transaminasi piruvat (hasil akhir glikolisis), yaitu alanine. Alanine ditranspor oleh darah ke hati, dimana alanine diubah lagi menjadi piruvat dengan transaminasi. Di hati, proses glukoneogenesis dapat menggunakan piruvat untuk mensintesis glukosa, yang mana dapat memasuki darah dan digunakan oleh otot – proses tersebut bernama glucose-alanine cycle sebagian besar di hati, di otot,  jaringan Glutamat, Glutamat Urea, Asam amino NH4+ATP Glutamine, Glutaminase sintetase H2O.  H2O Glutamate α-Keto- α-Keto-Glutamate  ADP, Pi glutarat Glutamine, Pyruvat, Alanine, Glukosa
d.   Siklus urea
i)   Di mitokondria CO2 +NH + 2 ATP Carbomyl phospate ; enzim:Carbomyl phospate synthetase I L-Ornithine L-Citruline ; enzim:Ornithine transcarbamoylase Carbomyl phospate Pi 
ii)                       Di sitosol *L-Citruline + L-Aspartate  Argininosuccinate ATP AMP + Ppi *Argininosuccinate Fumarate + L-Arginine ; enzim: Argininosuccinatelyase >>Fumarat dihidrasi menjadi malat yang dapat ditranspor ke mitokondria dan memasuki kembali Kreb’s Cycle. Selain itu, sitosolik malate dapat dioksidasi menjadi oksaloasetat, yang mana dapat diubah menjadi aspartat atau glukosa. *L-Arganine  L-Ornithine + Urea ; enzim: arginase  OVERALL:  Aspartate + NH3 + CO2 + 3 ATP     Urea + Fumarate + 2 ADP + AMP + 2 Pi + PPi+ 3 H20  *Urea berdifusi dari hati dan ditrasnpor dalam darah k eginjal, dimana urea disaring dan dikeluarkan dalam urine. Sebagian dari urea berdifusi ke ke usus halus dan diuraikan menjadi CO2 dan NH3 oleh bakteriurease. Amonia ini sebagian hilang di feces dan sebagian lagi diserap lagi oleh darah.



2.   KATABOLISME RANTAI KARBON ASAM AMINO
a.   Asam amino glukogenik: asam amino yang katabolismenya menghasilkan piruvat atau salah satu intermediat dari siklus Krebs, yaitu:
v      Asparagin aspartat oxaloacetate
v      Glutamine
Phenilalanin fumarat Prolin αketoglutarate Tyrosin Arginine Histidine
Metionin
v      Alanine Valin succynil-coA Serine Isoleusin Glycine pyruvat       Threonn Sistein Threonine
b.   Asam amino ketogenik: asam amino yang katabolismenya menghasilkan acetoacetate atau salah satu bahan bakunya (acetyl coA atau acetoacetyl coA). Acetoacetate adalah salah satu dari ketone body, yaitu:
v      Leusin hanya ketogenic Lisin
v      Isoleusin : ketogenic dan glukogenic Triptofan 


HORMON yang BERPENGARUH PADA METABOLISME PROTEIN
1.   Hormon Tiroid Efek utama T3/T4
adalah untuk menggalakkan sintesis protein secara umum dan menghasilka keseimbangan nitrogen yang positif. Konsentrasi T3 yang sangat tinggi akan menghambat sintesis protein dan menyebabakan keseimbangan nitrogen yang negatif. Tiroksin meningkatkan kecepatan metabolisme seluruh sel, secara tidak langsung juga mempengaruhi metabolisme protein. Jika karbohidrat dan lemak tidak cukup tersedia untuk energi, tiroksin menyebabkan pemecahan protein yang cepat dan memakainya untuk energi.

2.   Insulin
Insulin penting untuk sintesis protein. Kekurangan insulin secara total, mengurangi sintesis protein sampao hampir nol. Meski tidak diketahui kenapa, tapi insulin memang mempercepat transpor asam amino ke sel. Insulin juga meningkatkan persediaan glukosa ke sel, sehingga kebutuhan asam amino untuk energi berkurang.

3.   Glukokortikoid
Glukokortikoid yang disekresikan adrenal kortex mengurangi kuantitas protein di sebagian besar jaringan, tapi meningkatkan konsentrasi asam amino di dalam plasma, juga meningkatkan protein hati dan protein plasma. Diduga bahwa glukokortikoid bekerja dengan meningkatkan kecepatan pemecahan protein ekstrahepatik, dengan demikian, meningkatkan jumlah asam amino yang tersedia dalam cairan tubuh. Hal ini sebaliknya memungkinkan hati meningkatkan jumlah sintesis protein ekstraseluler dan protein plasma.

4.   Testosteron
Testosteron menyebabkan peningkatan deposit protein dalam jaringan di seluruh tubuh, terutama peningkatan protein kontraktil otot. Berbeda dengna hormon pertumbuhan yang menyebabakna jaringan terus menerus tumbuh hamoir tak terbatas, testosteron menyebabkan otot dan jaringan protein lain membesar hanya untuk beberapa bulan. 


PEMBENTUKAN KETON BODIES:
Setelah deaminasi, dikeluarkan sebagai urea. Rangkaian karbon yang tersisa setelah transaminasi :
(1)                       dioksidas menjadi CO2 lewat citric acid cycle
(2)                       membentuk glukosa (glukoneogenesis)
(3)                        membentuk keton bodies.Ketone body biasa digunakan setelah puasa untuk waktu yang lama (lebih dari 10 hari) sebagai sumber energi alternatif. Ketone bodies dalam jumlah yang kecil normal dalam darah, tapi bila konsentrasinya meningkat, pH dalam darah menurun. Ini disebut ketosis, sebuah tanda bahwa keadaan kimia tubuh mulai kacau. Saat dimana lebih banyak lagi keton bodies yang terakumulasi sehingga menyebabkan kadar pH darah turun sampai taraf asam yang membahayakan, keadaan ini disebut ketoacidosis. 


PEMBENTUKAN ALBUMIN
Albumin disintesis dalam hati dengan pengaruh hormon insulin / T4 atau kortisol. Kadar albumin yang normal dalam darah untuk orang dewasa (> 3 tahun) adalah 3,5-5 g/dL. Untuk anak-anak yang berumur kurang dari 3 tahun, kadar yang normal adalah 2,5-5,5 g/dL. 


BLOOD UREA NITROGEN (BUN) TEST
BUN adalah tes untuk mengatur seberapa baik ginjal bekerja. Tes ini mengukur kandungan nitrogen yang ada dalam darah, yaitu urea. Penyakit pada ginjal kadang membuat ginjal susah untuk menyaring urea sebanyak biasanya. Ini menyebabkan tingginya level urea dalam darah. Dalam tes ini, sampel darah akan diambil. Batas yang normal untuk BUN adalah 7-20 mg/dL. 

Apa yang Diukur dalam Tes Fungsi Hati?
Produk berikut biasanya diukur sebagai bagian dari tes fungsi hati:
  • ALT (alanin aminotransferase), juga dikenal sebagai SGPT (serum glutamik piruvik transaminase)
  • AST (aspartat aminotransferase), juga dikenal sebagai SGOT (serum glutamik oksaloasetik transaminase)
  • Fosfatase alkali
  • GGT (gamma-glutamil transpeptidase, atau gamma GT)
  • Bilirubin
  • Albumin
Lembaran Informasi (LI) 120 menunjukkan nilai normal atau nilai rujukan untuk semua tes tersebut. Harus ditekankan bahwa nilai ini berbeda tergantung pada alat yang dipakai di laboratorium yang melakukan tes serta cara penggunaannya. Laporan laboratorium yang kita terima setelah melakukan tes menunjukkan nilai normal yang berlaku. Sebagai contoh, batas atas nilai normal (BANN) untuk AST dapat berkisar dari 35 hingga 50, dan berbeda untuk laki-laki dan perempuan. Jadi bila kita ingin dapat komentar mengenai hasil tes, sebaiknya kita menyebut baik hasil tes maupun nilai normal. Selain itu, hasil tes juga dapat berubah tergantung pada jam berapa darah diambil. Sebaiknya contoh darah kita diambil pada jam yang sama setiap kali kita dites fungsi hati, dan juga selalu pada laboratorium yang sama.


Enzim Hati
ALT adalah lebih spesifik untuk kerusakan hati. ALT adalah enzim yang dibuat dalam sel hati (hepatosit), jadi lebih spesifik untuk penyakit hati dibandingkan dengan enzim lain. Biasanya peningkatan ALT terjadi bila ada kerusakan pada selaput sel hati. Setiap jenis peradangan hati dapat menyebabkan peningkatan pada ALT. Peradangan pada hati dapat disebabkan oleh hepatitis virus, beberapa obat, penggunaan alkohol, dan penyakit pada saluran cairan empedu.
AST adalah enzim mitokondria yang juga ditemukan dalam jantung, ginjal dan otak. Jadi tes ini kurang spesifik untuk penyakit hati. Dalam beberapa kasus peradangan hati, peningkatan ALT dan AST akan serupa.
Fosfatasealkali meningkat pada berbagai jenis penyakit hati, tetapi peningkatan ini juga dapat terjadi berhubungan dengan penyakit tidak terkait dengan hati. Fosfatase alkali sebetulnya adalah suatu kumpulan enzim yang serupa, yang dibuat dalam saluran cairan empedu dan selaput dalam hati, tetapi juga ditemukan dalam banyak jaringan lain. Peningkatan fosfatase alkali dapat terjadi bila saluran cairan empedu dihambat karena alasan apa pun. Di antara yang lain, peningkatan pada fosfatase alkali dapat terjadi terkait dengan sirosis dan kanker hati.
GGT sering meningkat pada orang yang memakai alkohol atau zat lain yang beracun pada hati secara berlebihan. Enzim ini dibuat dalam banyak jaringan selain hati. Serupa dengan fosfatase alkali, GGT dapat meningkat dalam darah pasien dengan penyakit saluran cairan empedu. Namun tes GGT sangat peka, dan tingkat GGT dapat tinggi berhubungan dengan hampir semua penyakit hati, bahkan juga pada orang yang sehat. GGT juga dibuat sebagai reaksi pada beberapa obat dan zat, termasuk alkohol, jadi peningkatan GGT kadang kala (tetapi tidak selalu) dapat menunjukkan penggunaan alkohol. Penggunaan pemanis sintetis sebagai pengganti gula, seumpamanya dalam diet soda, dapat meningkatkan GGT.


Tes Air Seni
Ada serangkaian tes pada air seni untuk menilai fungsi ginjal. Sebuah tes sederhana, yang disebut urinanalisis, sering dilakukan pada awal. Contoh air seni diperiksa secara fisik untuk ciri termasuk warna, bau, penampilan, dan kepadatan; diperiksa secara kimia untuk unsur termasuk protein, glukosa, dan pH; dan di bawah mikroskop untuk keberadaan unsur sel (sel darah merah dan putih, dll.), bakteri, kristal, dsb. Kalau hasil tes ini menunjukkan kemungkinan ada penyakit atau penurunan pada fungsi ginjal, tes yang berikut mungkin dapat dilakukan:
  • Keluaran kreatinin (creatinine clearance). Tes ini menilai kemampuan ginjal untuk menghilangkan senyawa yang disebut kreatinin dari darah. Kreatinin adalah bahan ampas dari metabolisme tenaga otot, yang seharusnya disaring oleh ginjal dan dimasukkan pada air seni. Tes ini mengukur jumlah kreatinin yang dikeluarkan ke air seni selama beberapa jam. Untuk menghitung keluaran, tingkat kreatinin dalam darah juga harus diukur.
  • Keluaran urea. Urea adalah bahan ampas dari metabolisme protein, dan dikeluarkan dalam air seni. Seperti keluaran kreatinin, tes ini mengukur jumlah urea yang dikeluarkan ke air seni selama beberapa jam, dan juga membutuhkan pengukuran tingkat urea dalam darah.
  • Osmologi air seni. Tes ini mengukur jumlah partikel (bibit) yang dilarutkan dalam air seni, untuk menilai kemampuan ginjal untuk mengatur kepekatan air seni sebagaimana konsumsi air meningkat atau menurun.
  • Keberadaan protein. Ginjal yang sehat menyaring semua protein dari darah dan menyerapnya kembali, sehingga tingkat protein dalam air seni tetap rendah. Tetap ditemukan protein dalam air seni adalah tanda penyakit ginjal.


Tes Darah
Ada beberapa tes darah yang dapat membantu menilai fungsi ginjal:
  • Nitrogen urea darah (blood urea nitrogen/BUN). Urea adalah produk samping dari metabolisme protein. Bahan ampas ini dibentuk oleh hati, kemudian disaring oleh ginjal dan dikeluarkan dalam air seni oleh ginjal. Tingkat BUN dalam darah dapat menandai masalah ginjal, tetapi karena juga dipengaruhi oleh fungsi hati (lihat Lembaran Informasi (LI) 135), tes harus dilakukan bersamaan dengan pengukuran kreatinin, yang lebih khusus menandai masalah ginjal.
  • Kreatinin. Tes ini mengukur tingkat kreatinin (lihat di atas) dalam darah. Karena tingkat kreatinin hanya sedikit dipengaruhi oleh fungsi hati, tingkat kreatinin yang tinggi dalam darah lebih khusus menandai penurunan pada fungsi ginjal.
  • Tes lain. Pengukuran tingkat zat lain, yang seharusnya diatur oleh ginjal, dalam darah dapat membantu menilai fungsi hati. Zat ini termasuk zat natrium, kalium, klorida, bikarbonat, kalsium, magnesium, fosforus, protein, asam urik dan glukosa.

Manfaat dan Bahaya Minyak Jelantah

0

 

Minyak jelantah itu apa sih ?? Bahaya nggak ya kalau kita menkonsumsi makanan yang digoreng dengan minyak jelantah ?? Di samping bahayanya sangat besar bagi kesehatan tubuh apakah minyak jelantah ada manfaatnya ??

Artikel ini akan mencoba menjelaskan tentang bahaya dan manfaat dari penggunaan minyak jelantah.

Minyak jelantah adalah minyak goreng yang dipanaskan atau digunakan berulang kali dan telah mengalami perubahan, baik secara fisik maupun kimia yakni dengan adanya perubahan warna dari bening menjadi berwarna gelap dan berbau tengik, serta secara kimiawi mengalami perubahan reaksi hidrolis, oksidasi termal dan polimerasi termal.

Seringkali kita menemui penggunaan minyak ini di warung-warung makanan dan penjual gorengan. Para pedagang menggunakannya karena di samping harganya yang murah, para pedagang juga merasa sayang membuang minyak goreng yang telah dipakai karena harga minyak saat ini meroket. Padahal penggunaan minyak jelantah sendiri berbahaya lho.

Coba kita lihat tukang gorengan di sepanjang jalan. Warna minyaknya yang mendidih selalu berwarna hitam pekat. Semakin pekat warnanya konon akan semakin gurih rasa gorengannya. Ya, itulah minyak jelantah yang sudah digunakan berulang kali. Demi alasan penghematan, minyak jelantah digunakan terus-menerus. Alhasil, kesehatan tubuh yang memakan gorengan lah yang menjadi korbannya. Jika Anda menyukai gorengan, waspadalah terhadap gorengan berwarna gelap dan bertekstur lebih keras dari biasanya karena mungkin minyak yang digunakan adalah minyak jelantah.
Tidak jauh dari perilaku itu, kita pun kadang merasa sayang membuang minyak jelantah dari dapur kita. Minyak jelantah masih saja kita gunakan meski kita tahu bahwa minyak itu sudah tidak layak dipakai.
Padahal kita tahu, minyak jelantah telah mengalami perubahan struktur kimiawinya akibat proses penggorengan. Minyak jelantah mengandung asam lemak jenuh yang tinggi yang berbahaya bagi tubuh. Kandungan kolesterol baik (HDL) semakin berkurang sementara kolesterol buruk (LDL) semakin meningkat. Hal ini dapat memicu berbagai penyakit seperti hipertensi, penyumbatan peredaran darah, penyakit jantung, dan stroke. Bahkan lebih dari itu, minyak jelantah dapat menyababkan kanker colon pada usus besar.
Minyak jelantah pun dapat merusak nutrisi baik yang dikandung makanan. Contohnya ikan salmon yang mengandung Omega-3, nutrisi yang bermanfaat untuk menurunkan kolesterol dalam darah, akan hilang khasiatnya jika digoreng dengan minyak jelantah karena komposisi ikatan rangkapnya menjadi rusak.

Berdasarkan hasil kajian dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM RI Mataram), serta kajian dari pakar kesehatan terhadap penggunaan minyak jelantah sebagai minyak goreng akan memberikan dampak pada gangguan kesehatan. Gangguan kesehatan yang ditimbulkan tersebut diantaranya, penggunaan minyak goreng berulang kali (lebih dari dua kali) pada suhu tinggi (160 derajat C sampai dengan 180 derajat C) akan mengakibatkan hidrolis lemak menjadi asam lemak bebas yang mudah teroksidasi, sehingga minyak menjadi tengik dan membentuk asam lemak trans yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan yang berhubungan dengan metabolisme kolesterol yang berujung pada penyakit tekanan darah tinggi dan jantung serta akan membentuk akrolein yaitu suatu senyawa yang menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan dan menimbulkan batuk. Selain itu, pengonsumsi minyak ini juga beresiko terkena penyumbatan pembuluh darah dan jantung koroner. Dan yang tak kalah berbahaya, minyak ini juga bersifat karsinogen sehingga bisa menyebabkan kanker.

Mungkin bahaya di atas tidak akan terlihat hanya dengan sesekali mengonsumsi. Tapi bagaimana jika kita mengonsumsinya hampir setiap hari? Zat-zat berbahaya itu akan menumpuk di tubuh kita dan efeknya baru akan terasa.

Lalu, kenapa minyak jelantah masih banyak digunakan dan dikonsumsi?

Dari segi pedagang

Di tengah harga bahan makanan yang semakin meroket, para pedagang makanan harus mencari akal agar harga makanan jualannya tidak ikut naik karena hal itu akan berakibat berkurangnya pembeli. Akhirnya ada pedagang yang mengakali dengan mengurangi porsi makanan. Ada juga yang mengakali dengan menggunakan minyak bekas dan dipakai berulangkali sehingga pedagang tidak harus membeli minyak baru setiap harinya.

Tidak tahukah mereka bahaya minyak jelantah?

Sebagian pedagang sebenarnya tahu bahaya penggunaan minyak jelantah. Tapi mereka lebih mementingkan tidak mau rugi daripada kesehatan pembeli dagangannya. Hal ini cukup memprihatinkan. Ada juga pedagang yang benar-benar tidak tahu bahayanya penggunaan minyak jelantah. Hal ini dikarenakan kurangnya sosialisasi yang dilakukan kepada para pedagang mengenai bahaya minyak jelantah.

Dari segi pembeli

Biasanya pengguna minyak jelantah adalah warung-warung yang menyediakan harga miring untuk makanannya. Warung-warung ini banyak diminati oleh pekerja kantoran dan juga pelajar. Penghematan adalah salah satu alasan mereka memilih warung-warung tersebut kendati warung-warung tersebut menggunakan minyak jelantah yang berbahaya.
Jelantah yang bisa dikonsumsi
Kita dapat menggunakan minyak goreng yang kita pakai, tetapi maksinmal hanya 3 kali pemakaian. Minyak jelantah yang masih bisa digunakan adalah minyak jelantah yang masih jernih atau bening, berwarna kuning muda, dengan aroma masih segar khas minyak goreng. Minyak jelantah yang berwarna kental atau pekat dan aroma tengik sudah tidak layak digunakan sebagai miyak goreng. Minyak jelantah berwarna pekat sudah mengalami proses degradasi dan oksidasi yang menjadikan minyak tersebut bersifat toksik (beracun bagi tubuh manusia).
Memanfaatkan jelantah
Jika minyak jelantah sudah tidak bisa digunakan karena sudah berwarna pekat, lalu apa yang masih bisa kita lakukan agar minyak jelantah masih bisa dimanfaatkan. Sebagian dari kita mungkin merasa sayang untuk membuangnya begitu saja. Berdasarkan pandangan dari Safriadi dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), minyak jelantah dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif untuk kompor yang ramah lingkungan, karena termasuk dalam kelompok sumber energi nabati. Limbah minyak goreng berpotensi menjadi alternatif bahan bakar nabati yang ramah lingkungan dan mampu menurunkan 100% emisi gas buangan sulfur dan CO2 serta CO sampai 50%. Di kalangan orang tua jaman dulu pun, ada sebagian orang yang menggunakan lampu dengan minyak jelantah ini.

Daftar pustaka : http://www.suarakomunitas.net/?lang=id&rid=19&id=4074

Disusun oleh : Nama : Retno Palupi

NIM : A.102.06.024

Program : Reguler B

Tingkat/Smt : I / II

FESES

0

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dalam keadaan normal dua pertiga tinja terdiri dari air dan sisa makanan, zat hasil sekresi saluran pencernaan, epitel usus,bakteri apatogen, asam lemak, urobilin, gas indol, skatol dan sterkobilinogen. Pada keadaan patologik seperti diare didapatkan peningkatan sisa makanan dalam tinja, karena makanan melewati saluran pencernaan dengan cepat dan tidak dapat diabsorpsi secara sempurna bahan pemeriksaan tinja sebaiknya berasal dari defekasi spontan, jika pemeriksaan sangat diperlukan contoh tinja dapat diambil dengan jari bersarung dari rektum. Untuk pemeriksaan rutin dipakai tinja sewaktu dan sebaiknya tinja iiiperiksa dalam keadaan segar karena bila dibiarkan mungkin sekali unsur unsure dalam tinja menjadi rusak. Pemeriksaan tinja terdiri atas pemeriksaan makroskopik, mikroskopik dan kimia.

B. RUMUSAN MASALAH

Ø Apakah definisi feses ?

Ø Pemeriksaan apa saja yang digunakan ?

Ø Metode apa saja yang dipakai ?

Ø Bagaimana penyimpanan dan pengiriman feses ?

C. TUJUAN PENULISAN

· Mahasiswa dapat mengetahui definisi dan cara pemeriksaan feses

· Mahasiswa dapat mengerti cara menyimpan dan melakukan pengiriman feses.

BAB II

PEMBAHASAN

A. DEFINISI FESES

Tinja atau feses adalah produk buangan saluran pencernaan hewan yang dikeluarkan melalui anus atau kloaka. Pada manusia, proses pembuangan kotoran dapat terjadi (bergantung pada individu dan kondisi) antara sekali setiap satu atau dua hari hingga beberapa kali dalam sehari. Pengerasan tinja atau feses dapat menyebabkan meningkatnya waktu dan menurunnya frekuensi buang air besar antara pengeluarannya atau pembuangannya disebut dengan konstipasi atau sembelit. Dan sebaliknya, bila pengerasan tinja atau feses terganggu, menyebabkan menurunnya waktu dan meningkatnya frekuensi buang air besar disebut dengan diare atau mencret.

Bau khas dari tinja atau feses disebabkan oleh aktivitas bakteri. Bakteri menghasilkan senyawa seperti indole, skatole, dan thiol (senyawa yang mengandung belerang), dan juga gas hidrogen sulfida. Asupan makanan berupa rempah-rempah dapat menambah bau khas feses atau tinja.

B. PENGIRIMAN TINJA

Untuk mengirim tinja wadah yang digunakan sebaiknya adalah wadah yang terbuat dari kaca yang tidak bisa ditembus seperti plastik. Kalau konsistesni tinja keras,dos karton berlapis paraffin juga boleh dipakai. Wadah harus bermulut lebar.

C. PEMERIKSAAN TINJA

Pemeriksaan penting dalam tinja ialah terhadap parasit dan telur cacing. Sama pentingnya dalam keadaan tertentu adalah test darah samar.

Dalam keadaan normal dua pertiga tinja terdiri dari air dan sisa makanan, zat hasil sekresi saluran pencernaan, epitel usus, bakteri apatogen, asam lemak, urobilin, gas indol, skatol dan sterkobilinogen. Pada keadaan patologik seperti diare didapatkan peningkatan sisa makanan dalam tinja, karena makanan melewati saluran pencernaan dengan cepat dan tidak dapat diabsorpsi 3 secara sempurna

· Bahan pemeriksaan tinja sebaiknya berasal dari defekasi spontan

jika pemeriksaan sangat diperlukan contoh tinja dapat diambil dengan jari bersarung dari rektum.

· Untuk pemeriksaan rutin dipakai tinja sewaktu dan sebaiknya tinja diperiksa dalam keadaan segar karena bila dibiarkan mungkin sekali unsur unsure dalam tinja menjadi rusak. Pemeriksaan tinja terdiri atas pemeriksaan makroskopik, mikroskopik dan kimia.

D. PENANGANAN SAMPEL

Jika akan memeriksa tinja pilihlah bagian tinja yang memberikan kemungkinan sebesar besarnya untuk menemui kelainan misalnya, bagian yang bercampur darah atau ledir. Oleh karena itu unsure – unsure patologik tidak terdapat merata, maka hasil pemeriksaan mikroskopis tidak dapat dinilai kepositifannya dengan tepat.

E. PEMERIKSAAN MAKROSKOPIK

Pemeriksaan makroskopik tinja meliputi pemeriksaan:

1. Jumlah

2. Konsistensi

3. Warna

4. Bau

5. Darah

6. Lendir

7. Parasit

v Jumlah

Dalam keadaan normal jumlah tinja berkisar antara 100-250 gram per hari. Banyaknya tinja dipengaruhi jenis makanan ,bila banyak makan sayur jumlah tinja meningkat.

v Konsistensi

Tinja normal mempunyai konsistensi agak lunak dan berbentuk.

Pada diare konsistensi menjadi sangat lunak atau cair,sedangkan sebaliknya tinja yang keras atau skibala didapatkan pada konstipasi. Peragian karbohidrat dalam usus menghasilkan tinja yang lunak dan bercampur gas.

v Warna

Tinja normal kuning coklat dan warna ini dapat berubah mejadi lebih tua dengan terbentuknya urobilin lebih banyak. Selain urobilin warna tinja dipengaruhi oleh :

Ø Berbagai jenis makanan

Ø Kelainan dalam saluran pencernaan

Ø Obat yang dimakan.

- Warna kuning dapat disebabkan karena susu,jagung, lemak dan obat santonin.

- Tinja yang berwarna hijau dapat disebabkan oleh sayuran yang mengandung khlorofil atau pada bayi yang baru lahir disebabkan oleh biliverdin dan porphyrin dalam mekonium.

- Kelabu mungkin disebabkan karena tidak ada urobilinogen dalam saluran pencernaan yang didapat pada ikterus obstruktif, tinja tersebut disebut akholis.Keadaan tersebut mungkin didapat pada defisiensi enzim pankreas seperti pada steatorrhoe yang menyebabkan makanan mengandung banyak lemak yang tidak dapat dicerna dan juga setelah pemberian garam barium setelah pemeriksaan radiologik.

- Tinja yang berwarna merah muda dapat disebabkan oleh perdarahan yang segar dibagian distal, mungkin pula oleh makanan seperti bit atau tomat.

- Warna coklat mungkin disebabkan adanya perdarahan dibagian proksimal saluran pencernaan atau karena makanan seperti coklat, kopi dan lain-lain.

- Warna coklat tua disebabkan urobilin yang berlebihan seperti pada anemia hemolitik.

- Sedangkan warna hitam dapat disebabkan obat yang yang mengandung besi, arang atau bismuth dan mungkin juga oleh melena.

v Bau

Indol, skatol dan asam butirat menyebabkan bau normal pada tinja.

Bau busuk didapatkan jika dalam usus terjadi pembusukan protein yang tidak dicerna dan dirombak oleh kuman. Reaksi tinja menjadi lindi oleh pembusukan semacam itu.

Tinja yang berbau tengik atau asam disebabkan oleh peragian gula yang tidak dicerna seperti pada diare. Reaksi tinja pada keadaan itu menjadi asam.

v Darah

Adanya darah dalam tinja dapat berwarna merah muda,coklat atau hitam.

Darah itu mungkin terdapat di bagian luar tinja atau bercampur baur dengan tinja. Pada perdarahan proksimal saluran pencernaan darah akan bercampur dengan tinja dan warna menjadi hitam, ini disebut melena seperti pada tukak lambung atau varices dalam oesophagus.

Sedangkan pada perdarahan di bagian distal saluran pencernaan darah terdapat dibagian luar tinja yang berwarna merah muda yang dijumpai pada hemoroid atau karsinoma rektum.

v Lendir

Dalam keadaan normal didapatkan sedikit sekali lendir dalam tinja.

Terdapatnya lendir yang banyak berarti ada rangsangan atau radang pada dinding usus. Kalau lendir itu hanya didapat di bagian luar tinja, lokalisasi iritasi itu mungkin terletak pada usus besar. Sedangkan bila lendir bercampur baur dengan tinja mungkin sekali iritasi terjadi pada usus halus. Pada disentri, intususepsi dan ileokolitis bisa didapatkan lendir saja tanpa tinja.

v Parasit

Diperiksa pula adanya cacing ascaris, anylostoma dan lain-lain yang mungkin didapatkan dalam tinja.

F. PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS

Pemeriksaan mikroskopik meliputi pemeriksaan protozoa,telur cacing, lekosit, eritosit, sel epitel, kristal dan sisa makanan. Dari semua pemeriksaan ini yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap protozoa dan telur cacing.

1. Protozoa

Biasanya didapati dalam bentuk kista, bila konsistensi tinja cair baru didapatkan bentuk trofozoit. Telur cacing yang mungkin didapat yaitu Ascaris lumbricoides, Necator americanus, Enterobius vermicularis, Trichuris trichiura, Strongyloides stercoralis dan sebagainya.

2. Lekosit

Dalam keadaan normal dapat terlihat beberapa leukosit dalam seluruh sediaan. Pada disentri basiler, kolitis ulserosa dan peradangan didapatkan peningkatan jumlah leukosit.

3. Eosinofil

Eosinofil mungkin ditemukan pada bagian tinja yang berlendir pada penderita dengan alergi saluran pencernaan.

4. Eritrosit

Hanya terlihat bila terdapat lesi dalam kolon, rektum atau anus.Sedangkan bila lokalisasi lebih proksimal eritrosit telah hancur. Adanya eritrosit dalam tinja selalu berarti abnormal.

5. Epitel

Dalam keadaan normal dapat ditemukan beberapa sel epitel yaitu yang berasal dari dinding usus bagian distal. Sel epitel yang berasal dari bagian proksimal jarang terlihat karena sel ini biasanya telah rusak. Jumlah sel epitel bertambah banyak kalau ada perangsangan atau peradangan dinding usus bagian distal.

6. Kristal

Kristal dalam tinja tidak banyak artinya. Dalam tinja normal mungkin terlihat kristal tripel fosfat, kalsium oksalat dan asam lemak. Kristal tripel fosfat dan kalsium oksalat didapatkan setelah memakan bayam atau strawberi, sedangkan kristal asam lemak didapatkan setelah banyak makan lemak. Sebagai kelainan mungkin dijumpai kristal Charcoat Leyden

7. Sisa makanan

Hampir selalu dapat ditemukan juga pada keadaan normal, tetapi dalam keadaan tertentu jumlahnya meningkat dan hal ini dihubungkan dengan keadaan abnormal.

Sisa makanan sebagian berasal dari makanan daun-daunan dan sebagian lagi berasal dari hewan seperti serat otot, serat elastic dan lain-lain. Untuk identifikasi lebih lanjut emulsi tinja dicampur dengan larutan lugol untuk menunjukkan adanya amilum yang tidak sempurna dicerna. Larutan jenuh Sudan III atau IV dipakai untuk menunjukkan adanya lemak netral seperti pada steatorrhoe. Sisa makanan ini akan meningkat jumlahnya pada sindroma malabsorpsi.

G. PEMERIKSAAN KIMIA

Pemeriksaan kimia tinja yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap darah samar

· Tes terhadap darah samar untuk mengetahui adanya perdarahan kecil yang tidak dapat dinyatakan secara makroskopik atau mikroskopik.

· Adanya darah dalam tinja selalau abnormal.

· Pemeriksaan darah samar dalam tinja dapat dilakukan dengan menggunakan tablet reagens.

· Prinsip pemeriksaan ini hemoglobin yang bersifat sebagai peroksidase akan menceraikan hidrogen peroksida menjadi air dan 0 nascens (On). On akan mengoksidasi zat warna tertent yang menimbulkan perubahan warna

· Tablet Reagens banyak dipengaruhi beberapa faktor terutama pengaruh makanan yang mempunyai aktifitas sebagai peroksidase sering menimbulkan reaksi positif palsu seperti daging, ikan sarden dan lain lain.

· Menurut kepustakaan, pisang dan preparat besi seperti ferrofumarat dan ferro carbonat dapat menimbulkan reaksi positif palsu dengan tablet reagens. Maka dianjurkan untuk menghindari makanan tersebut diatas selama 3--4 hari sebelum dilakukan pemeriksaan darah samar

Test terhadap darah samar penting untuk mengetahui adanya pendarahan kecil yang tidak dapat dinyatakan secara makroskopis dan mikroskopis.

a. Cara dengan Benzidine Basa

1. Buatlah emulsi tinja dengan air atau dengan larutan garam kira-kira 10 ml dan panasi hingga mendidih.

2. Saring emulsi yang masih panas itu dan biarkan filtrat menjadi dingin kembali.

3. Kedalam tabung reaksi lain masukkan benzidine basa sebanyak sepucuk pisau.

4. Tambah 3 ml asam acetat glasial, kocok sampai benzidine larut dengan meninggalkan beberapa kristal.

5. Bubuhi 2 ml filtrat emulsi tinja, campur.

6. Beri 1 ml larutan hidrogen peroksida 3%.

7. Baca hasil dalam waktu 5 menit.

8. Interprestasi hasil :

( - ) tidak ada perubahan warna atau warna yang samar- samar hijau

(+1) hijau

(+2) biru bercampur hijau

(+3) biru

(+4) biru tua

b. Cara dengan Guajac

1. Buat emulsi tinja sebanyak 5 ml dalam tabung reaksi dan tambah 1 ml asam acetat glasial, campur.

2. Dalam tabung reaksi lain masukkan sepucuk pisau serbuk guajac dan 2 ml alkohol 95 %, campur.

3. Tuang dengan hati-hati isi tabung kedua kedalam tabung yang berisi tinja sehingga kedua jenis campuran tetap sebagai lapisan terpisah.

4. Hasil positif terlihat dari warna biru yang terjadi pada kedua lapisan itu.

Pemeriksaan urobilin

1. Taruhlah beberapa gram tinjadalam sebuah mortir dan campur dengan larutan mercuri chlorida 10% yang volumenya sama banyak dengan tinja itu.

2. Campur baik-baik dengan alunya.

3. Tuang bahan itu kedalam cawan datar agar mudah menguap dan biarkan selama 6 sampai 24 jam.

4. Adanya urobilin nyata oleh timbul warna merah.

Pemeriksaan bilirubin akan beraksi negatif pada tinja normal, karena bilirubin dalam usus akan berubah menjadi urobilinogen dan kemudian oleh udara akan teroksidasi menjadi urobilin. Reaksi mungkin menjadi positif pada diare dan pada keadaan yang menghalangi perubahan bilirubin menjadi urobilinogen, seperti pengobatan jangka panjang dengan antibiotik yang diberikan peroral, mungkin memusnakan flora usus yang menyelenggarakan perubahan tadi. Dalam tinja normal selalu ada urobilin. Jumlah urobilin akan berkurang pada ikterus obstruktif, jika obstruktif total hasil tes menjadi negatif, tinja berwarna kelabu disebut akholik.

Penetapan kuantitatif urobilinogen dalam tinja memberikan hasil yang lebih baik jika dibandingkan terhadap tes urobilin, karena dapat menjelaskan dengan angka mutlak jumlah urobilinogen yang diekskresilkan per 24 jam sehingga bermakna dalam keadaan seperti anemia hemolitik dan ikterus obstruktif. Tetapi pelaksanaan untuk tes tersebut sangat rumit dan sulit karena itu jarang dilakukan di laboratorium. Bila masih diinginkan penilaian ekskresi urobilin dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan urobilin urine.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Tinja atau feses adalah produk buangan saluran pencernaan hewan yang dikeluarkan melalui anus atau kloaka.

Unsur-unsur dalam feses dapat diamati dengan melakukan pemeriksaan makroskopis, mikroskopis, dan kimia.

B. SARAN

Pemeriksaan feses penting untuk dilakukan untuk mengetahui unsure-unsur yang terdapat di dalamnya, selain itu pemeriksaan feses dapat mendukung diagnose pemeriksaan yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Bauer JD, Ackerman PG, Toro G. Clinical Laboratory Methods, 8 , ed, Saint Louis : The CV Mosby Company. p. 538.

Gandasoebrata R. Penuntun Laboratorium Klinic, cetakan k-4 , Penerbit Dian Rakyat 1970 ; p 152.

Hepler OE, Manual of Clinical Laboratory Methods, 4 , ed. SprinfieldIllinois USA: Charles C Thomas Publisher 1956; p 124.

Hyde TA, Mellor LD, Raphael SS. Gastrointestinal tract in MedicalLaboratory Technology . ed, Raphael SS, Lynch, MJG (eds),Philadelphia: WB Saunders Company, 1976: p. 209.

Hematest, Leaflet ; Ames Company, Division Miles Laboratory

asam nitrat

0

ASAM NITRATyellowsolid_350

I. RUMUS KIMIA

HNO3

II. KEGUNAAN

Diberikan di bawah ini adalah daftar asam nitrat digunakan dalam berbagai bidang - panjang dari yang akan memberi Anda gambaran kasar tentang pentingnya bagi umat manusia :

1. Dalam teknik aerospace, asam nitrat secara luas digunakan sebagai oksidator dalam roket berbahan bakar cair

2. Dalam industri bahan peledak, digunakan untuk bahan peledak manufaktur seperti TNT, kapas pistol, nitro gliserin, dll

3. Dalam produksi pupuk, digunakan untuk pupuk manufaktur seperti kalsium nitrat, amonium nitrat, dll

4. Asam nitrat ini juga digunakan dalam pembuatan garam nitrat seperti nitrat amonium, perak nitrat, kalsium nitrat, dll

5. Asam ini banyak digunakan dalam bidang kimia sebagai reagen laboratorium

6. Asam ini digunakan dalam pembuatan pewarna dan obat-obatan dari berbagai produk tar batubara

7. Asam ini digunakan untuk pemurnian berbagai logam mulia termasuk emas, perak platinum, dll

8. Dalam metalurgi, digunakan dalam kombinasi dengan alkohol untuk mengetsa desain pada logam seperti kuningan, perunggu tembaga, dll

9. Asam ini juga digunakan dalam penyusunan aquaregia di mana elemen mulia yang dibubarkan

10. Dalam konsentrasi yang sangat rendah, digunakan untuk memalsukan umur pinus dan kayu maple

11. Asam nitrat dengan campuran air digunakan untuk membersihkan makanan dan peralatan susu karena kemampuannya untuk menghapus endapan senyawa kalsium dan magnesium dengan mudah

12. Asam ini juga digunakan secara luas dalam pengujian kolorimetri untuk menentukan perbedaan antara heroin dan morfin

III. PROSEDUR PEMERIKSAAN

Timbang seksama lebih kurang 2 ml dalam labu Erlenmeyer bersumbat kaca yang telah ditara, tambah 25 ml air. Titrasi dengan natrium hidroksida 1 N LV menggunakan indicator merah metil LP.

1 ml natrium hidroksida 1 N ≈ 63,01 mg HNO3

IV. REAKSI KIMIA

HNO3 + NaOH è NaNO3 + H2O

V. DAFTAR PUSTAKA

Panitia Farmakope Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan RI. (halaman 50)

Pengecatan Spora

0

PENGECATAN SPORA


I. Tujuan

Untuk mengetahui adanya dan letak spora pada sel bakteri.

II. Dasar teori

Spora dibentuk oleh jenis bakteri tertentu terutama genus bacillus dan Clostridium. Pada umumnya spora terdapat di dalam spora ( endospora) dengan letak dan ukuran yang berbeda. Spora pada bakteri dibentuk saat kondisi secara kimiawi dan kimiawi yang kurang menguntungkan misalnya nutrisi, sinar, panas dan kering. Macam metode pengecatan yang digunakan untuk melihat spora yaitu Schaeffer-fulton, Bartolomew-Mittwer, klein dan Donner. Pewarnaan spora dapat dugunakan untuk membantu indentifikasi bakteri.

III. Alat dan bahan

-        Gelas benda, lampu spirtus, mikroskop

-        Jarum ose

-        Akuadest steril

-        Biakan murni : staphilococcus aureus, bacillus subtilis

-        Cat : safranin dan malachit green

IV. Cara Kerja

   1. Metode Schaeffer Fulton

Cara kerja :

   1. Bersihkan gelas benda dengan alkohol agar bebas dari lemak.
   2. Buat preparat smear dari biakn yang ada secara yang aseptic.
   3. Preparat smear itu dikering udarakan.
   4. Lakukan fiksasi di atas lampu spirtus.
   5. Letakkan preparat smear pada rak pengecatan lalu tetesi 2-3 tetes malachite green 5% dan biarkan selama 1 menit, lalu dipanaskan di atas nyala lampu spirtus selama setengan menit atau kira-kira sampai timbul uap, jangan sampai mendidih lalu di dinginkan.
   6. Cuci dengan air mengalir lalu tiriskan.
   7. Tetesi dengan cat safranin selama 1 menit.
   8. Cuci dengan air mengalir.
   9. Preparat dikering udaran, dapat menggunakan kertas serap untuk menyerap air pada permukaan.
  10.  Amati preparat di bawah mikroskop dengan obyektif 100  ( memakai minyak imersi).
  11.  Gambar hasil pengamatan.

   2.  Metoden Bartolomew-Mittwer

Cara kerja :

   1. Bersihkan gelas benda dengan alkohol agar bebas dari lemak.
   2. Buat preparat smear dari biakn yang ada secara yang aseptic.
   3. Preparat smear itu dikering udarakan.
   4. Lakukan fiksasi di atas lampu spirtus.
   5. Letakkan preparat smear pada rak pengecatan lalu tetesi 2-3 tetes malachite green 5% dan biarkan selama 10 menit.
   6. Cuci dengan air mengalir lalu tiriskan.
   7. Tetesi dengan cat safranin selama 1 menit.
   8. Cuci dengan air mengalir.
   9. Preparat dikering udaran, dapat menggunakan kertas serap untuk menyerap air pada permukaan.
  10.  Amati preparat di bawah mikroskop dengan obektif 100 ( memakai minyak imersi).
  11.  Gambar hasil pengamatan

V. Hasil pengamatan



VI.Evaluasi

   1. Jelaskan mengapa spora bakteri lebih resisten daripada sel vegetatif terhadap faktor lingkungan?

Jawab : karena mempunysi struktur  yang kompleks:

    * Eksospora
    * Kulit spora : tahan terhadap zat kimia
    * Kortex        :lapisan paling tebal
    * Core           : tahan terhadap panas

   2. Sebutkan perbedaan dan persamaan dari kedua jenis pengecatan tersebut!

Jawab : persamaan : cat yang digunakan sama yaitu malachite green dan safranin

Perbedaan : Metode schaeffer fulton : dilakukan pemanasan saat setelah ditetesi    malachite green, sedangkan Metoden Bartolomew-Mittwer tidak dilakukan pemanasan ,  hanya ditunggu 10 menit

   3. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi pengecatan spora!

Jawab:

   1. Fiksasi
   2. Smear terlalu tebal
   3. Waktu pengecatan tidak tepat
   4. Konsentrasi reaagen
   5. Umur bakteri
   6. nutrisi

   4. Sebutkan 2 species bakteri yang berspora!

Jawab: Staphilococcus aureus, Bacillus subtilis



DAFTAR PUSTAKA

http://dwipoenya.wordpress.com/2010/11/05/pewarnaan-spora/

TREMATODA

0


Trematoda
Cacing daun adalah cacing yang termasuk kelas Trematoda filum Platyhelminthes dan hidup sebagai parasit. Pada umumnya cacing ini bersifat hermaprodit kecuali cacing Schistosoma, mempunyai batil isap mulut dan batil isap perut (asetabulum). Spesies yang merupakan parasit pada manusia termasuk subkelas DIGENEA, yang hidup sebagai endoparasit.

Trematoda dapat diklasifikasikan menjadi 2 golongan, yaitu :
A.   Trematoda kelamin terpisah (jantan dan betina)
1. Schistosoma haematobium
2. Schistosoma mansoni
3. Schistosoma japonicum
B.   Trematoda kelamin menjadi satu (hermaprodit)
1. Fasciola hepatica
2. Fasciolopsis buski
3. Paragonimus westermani
4. Clonorchis sinensis

Sifat dan Morfologi
1.   Trematoda dalam reproduksinya terdapat 2 fase, yaitu :
a. Fase seksual pada Definitive host
b. Faee aseksual pada intermediet host
2.   Tidak bersegmen.
3.   Mempunyai isap anterior (asetabulum) dimana saluran cerna bermuara.
4.   Mempunyai kait atau duri.
5.   Mempunyai kulit aselluler, mungkin imempunyai duri atau gerigi.
6.   Batil isap ventral untuk melekatkan diri, pada beberapa spesies terletak di posterior.
7.   Mempunyai porus genitalis dan letaknya berbeda-beda.
8.   Batil isap genital kadang-kadang merupakan alat tambahan (seperti pada Heterophyes).
9.   Bentuk saekum (usus besar) bercabang dua sehingga menyarupai bentuk huruf “Y” terbalik.


Siklus Hidup Secara Umum
1.   Telur beroperkulum dalama feses atau sputum masuk ke air.
2.   Ovum menetap dalam air.
3.   Ovum menetas dan berkembang biak menjadi mirasidium yang memepunyai masa hidup sebentar, yaitu +- 48 jam.
4.   Mirasidium menembus kepala alat peraba atau kaki keong atau ovum termakan oleh keong dan menetas di dalam tubuh keong.



Hospes
     Berbagai macam hewan yang dapat berperan sebagai hospes definitive cacing trematoda, antara lain : kucing, kambing, sapi, tikus, babi, burung, luak, harimau, dan manusia.
     Menurut tempat hidup cacing dewasa dalam tubuh hospes, maka trematoda dapat dibagi dibagi dalam :
1.   Trematoda hati (liver flukes) : Clonorchis sinensis, Opisthorchis felineus, Opisthorchis  viverrini, dan Fasciola
2.   Trematoda usu (intestinal flukes) : Fasciolopsis buski, ECHINOSTOMATIDAE dan HETEROPHYDAE
3.   Trematoda paru (lung flukes) : Paragonimus wetermani
4.   Trematoda darah (blood fluke) : Schistosoma japonicum, Schistosoma mansoni, dan Schistosoma haematobium

Distribusi geografik
     Pada umunya cacingtermatoda ditemukan di RRC, Korea, Jepang, Filiphina, Thailand, Vietnam, Taiwan, India, dan Afrika. Beberapa spesies ditemukan di Indonesia seperti Fasciolopsis buski di Kalimantan, Echinostoma di Jawa dan Sulawesi, HETEROPHYDAE di Jakarta dan Schistosoma japonicum di Sulawesi Tengah.

Morfologi dan Daur Hidup
     Pada umumnya bentuk badan cacing dewasa pipih drsoventral dan simetris bilateral, tidak mempunyai rongga badan. Ukuran panjang cacing dewasa sangat beranekaragam dari 1 mm sampai kurang lebih 75 mm. Tanda khas lainnya adalah terdapatnya 2 buah batil isap, yaitu batil isap mullut dan batil isap perut. Beberapa species mempunyai batil isap genital. Saluran pencernaan menyerupai huruf “Y” terbalik yang dimulai dengan mulut dan berakhir buntu pada saekum. Pada umumnya Trematoda tidak mempunyai alat pernafasan khusus karena hidupnya secara anaerob. Saluran ekskresi terdapat simetris bilateral dan berakhir di bagian posterior. Susunan saraf dimulai dengan ganglion di bagian dorsal esophagus, kemudian terdapat saraf yang memanjang di bagian dorsal ventral dan lateral badan. Cacing ini bersifat hermaprodit dengan alat reproduksi yang kompleks.
     Cacing dewasa hidup di dalam tubuh hospes definitive. Telur diletakkan di saluran hati, rongga usus, paru, pembuluh darah atau jariingan tempat cacing hidup dan telur biasanya keluar bersama tinja, dahak, atau urine. Pada umunya telur berisi sel telur , hanya beberapa spesies telur sudah mengandung mirasidium (M) yang mempunyai bulu getar. Di dalam air, telur menetas bila sudah mengandung mirasidium (telur matang). Pada spesies trematoda yang mengeluarkan telur berisi sel telur, telur akan menjadi matang dalam waktu kurang lebih 2-3minggu. Pada beberapa spesies Trematoda, telur matang menetas bila ditelan keong (hospes perantara) dan keluarlah mirasidium yang masuk ke dalam jaringan keong, atau telur dapat langsung menetas dan mirasidium berenang di air, dalam waktu 24 jam mirasidium harus sudah menemukan keogn air agar dapat melanjutkan perkembangannya. Keong air di sini berfungsi sebagai hospes perantara pertama (HP I). dalam keong air tersebut mirasidium berkembang menjadi sebuah kantung yang berisi embrio, disebut sporokista (S). sporokista ini dapat mengandung sporokista lain atau redia (R), bentuknya berupa kantung yang sudah mempunyai mulut, farinf, dan saekum. Di dalam sporokista II atau redia (R), larva berkembang menjadi serkaria (SK).
Perkembangan larva dalam hospes pertantara I mungkin terjadi sebagai berikut :
M è S è R è SK          : misalnya Clonoschis sinensis
M è S1 è S2 è SK        : misalnya Schistosoma
M è S è R1 è R2 è SK    : misal trematoda lainnya
Serkaria kemudian keluar dari keong air dan mencari hospes perantara II yang berupa ikan, tumbuh-tumbuhan air, ketam, udang batu dan keong air lainnya, atau dapat menginfeksi hospes definitive secara langsung seperti pada Schistosoma. Dalam hospes perantara II serkaria berubah menjadi metaserkaria yang berbentuk kista. Hospes definitive mendapat infeksi apabila makan hospes perantara II yang mengandung metaserkaria yang tidak dimasak dengan baik. Infeksi cacing Schistosoma terjadi dengan cara serkaria menembus kulit hospes definitive, yang kemudian berubah menjadi skistosomula, lalu berkembang menjadi cacing dewasa dalam tubuh hospes

Diagnosis
     Diagnosis dibuat dengan menemukan telur dalam tinja, dahak, urine atau dalam jaringan biopsy, dapat pula dengan reaksi serologi untuk membantu menegakkan diagnose.

Prognosis
     Pada umunya bila penyakit belum mencapai stadium lanjut dengan fibrosis alat vital seperti jantung, hati , dan lain-lain, prognosis adalah baik bila diberi pengobatan dini.

Epidemiologi
     Kebiasaan memakan HP II yang mengandung metaserkaria yang tidak dimasak dengan baik merupakan factor penting demi transmisi penyakit, kecuali pedal skistosomiasis yang infeksinya terjadi karena manusia mandi, mencuci atau masuk ke dalam air seperti kali atau parit yang mengandung serkaria.




Paragonimus westermani
Paragonimus westermani mempunyai kesamaan spesies, yaitu : Distema westermani, oriental Lung Flukes, Paragonimus ringeri. Penyebaran geografisnya di Asia Timur, Asia Tenggara termasuk Indonesia, Afrika dan Amerika Selatan.
Spesies-spesies yang lain adalah : P. alfricanus (afrika), P. mexicanus (mexico dan amerika latin), P. uterobilaterallio (Nigeria), dan P. kellicotti (Jepang)

Morfologi :
1.   Berbentuk ovoid seperti biji kopi
2.   Mempunyai ukuran 7-12 x 4-6 mm
3.   Warna yang segar adalah coklat kemerahan, sedangkan bila diawetkan adalah abu-abu
4.   Kutikula mempunyai sisik-sisik kecil
5.   Batil isap oral hampit sama besar dengan batil isap ventral
6.   Testis terdiri dari 2 lobus di bagian posterior kanan dan kiri
7.   Genital pore : posterior dari batil isap ventral
8.   Ovarium berlobus, terletak di kiri agak ke belakang dari batil isap ventral
9.   Uterus di sebelah kanan agak di muka ovarium
10.           Vitellaria di lateral kanan dan kiri, berupa folikel-folikel yang kecil
11.           Telur :
·         Ukuran 80-120 x 40-6 mikron
·         Warna coklat keemasan
·         Operculum jelas
·         Terdapat penebalan di bagian ujung lain

Siklus hidup
1.   Habitat cacing dewasa, yaitu dalam paru-paru dari definitive host (manusia dan carnivora)
2.   Telur dikeluarkan bersama sputum atau bila sputum ini tertelan, maka telur dijumpai dalam feses
3.   Bila telur dalam air, maka perlu beberapa minggu untuk menetas menjadi mirasidium
4.   Mirasidium mencari intermediate host pertama yaitu snail dari genus :
-          Semisulecopira, Thiora, Pomaoea, Pomatiopsis. Dan perkembangan dalam tubuh snail seperti pada Fasciola hepatica, yaitu : Sporokista redia I – redia II dan akhirnya serkaria
5.   Serkaria selanjutnyakeluar dari snail mencari i.m II atau snail tersebut yang dimakan i.m II, dan sebagai i.m II adalah : kepiting air tawar, udang air tawar. Dalam kepiting/udang tersebut parasit mengadakan onklotani menjadi metaserkaria (jumlah -+ 3000)
6.   Bila kepiting/udang dimakan i.m II maka metaserkaria mengadakan enkistasi, selanjutnya menembus dinding usus menuju berturut-turut : cavum abdomen, diafragma, cavum pleurae dan akhirnya paru-paru. Perjalanan ini memerlukan waktu +-20 hari
Dalam paru-paru berubah menjadi cacing dewasa dalam waktu 5-6minggu. Kadang-kadang cacing tidak dapat mencapai paru-paru, tetapi terhenti dalam perjalanan dan disebut “Ectopic Focus”

Skema Siklus Hidup
Telur dikeluarkan dalam sputum atau tertelan dan dikeluarkan dalam tinja/feses è telur matang dalam air dan menetas dalam 20 hari menjadi mirasidium è mirasidium berkembang menjadi sporokista è redia I è redia II è berkembang menjadi serkaria è keluar dari snail/siput è enkistasi pada i.m atau hopes perantara II (kepiting/udang) è eksistasi dalam usus halus è menetap dalam paru-paru. Dan yang tidak dapat mencapai paru-paru disebut “Ectopic Focus”
Dengan catatan bahwa :
-          Manusia mendapat infeksi dengan jalan makan kepiting/udang yang tidak dimasak
-          Pada ibu-ibu rumah tangga/koki-koki, infeksi diperoleh dengan cara kontaminasi dari jari kuku waktu mencicipi makanan sebelum masak

Patologi
1.   Invasi sedikit berpengaruh pedal hospes
2.   Dalam paru-paru :
-          Reaksi jaringan mengakibatkan pembentukan kapsul jaringan fibrosa (berwarna biru bersih) yang mengandung : cacing (umunya berpasangan), telur, dan infiltrate radang. Berhubungan dengan jalan pernafasan. Komplikasi sekunder kista paru, bronkiektasis, pembentukan abses dan sering terjadi TB
3.   Pedal tempat ektopik ; kista yang sama dapat ditemukan dimana-mana dalam tubuh
4.   Manifestasi umu adalah eosinofilia
5.   Keluhan :
-          Batuk-batuk disertai sputum
-          Hemoptisis
-          Nyeri local
-          Keluar keringat pada malam hari

 Diagnose
1.   Dengan ditemukannya telur dalam sputum, cairan pleura
2.   Serologis :
-          Complement fication test
-          Intradermal test

Pencegahan
-          Memasak kepiting/udang dengan baik
-          Cuci tangan yang bersih terutama bagi ibu-ibu/koki-koki



DAFTAR PUSTAKA

è Soejoto Dkk. 1989. Parasitologi Medik Helminthologi Jilid 2. Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Depkes RI. Jakarta. (Halaman 96 Dan Halaman 107-109).
 è Staf Pengajar Bagian Parasitologi FKUI. 1998. Parasitologi Kedokteran Edisi Ketiga. Gaya Baru. Jakarta (Hal. 51-53)

PROTEIN

0


PROTEIN

Pencernaan protein dimulai di :
1.   Di lambung, Hydrochloric acid (HCL) menguraikan rangkaian protein (denaturasi protein) dan mengaktifkan enzim pepsinogen menjadi pepsin. Pepsin lalu menguraikan protein menjadi polipeptida kecil dan beberapa asam amino bebas.

2.   Di usus kecil, polipeptida diuraikan menjadi asam amino dengan menggunakan enzim pankreas dan intestinal protease:
a.    Trypsin à menguraikan ikatan peptida menjadi asam amino lysine dan arginine.
b.   Chymotrypsin à menguraikan ikatan peptoda menjadi asam amino phenylalanine, tyrosine, tryptophan, methionine, asparagine, dan histidine.
c.   Carboxypeptidase à menguraikan asam amino  dari ujung karboksil polipeptida.
d.   Elastase dan collagenase à menguraikan polipeptida menjadi polipeptida yang lebih kecil dan tripeptida. Dan enzim yang ada di permukaan sel dinding usus halus yaitu :
i)   Intestinal tripeptidase à menguraikan tripeptida menjadi dipeptida dan asam amino.
ii)                       Intestinal dipeptidase à menguraikan tripeptida menjadi asam amino.
iii)                  Intestinal aminopeptidase à menguraikan asam amino dari ujung amino polipeptida kecil.

3.   Setelah itu, asam amino diserap oleh dinding usus, lalu diangkut ke sel, dimana asam amino tersebut dilepaskan ke dalam darah.

4.   Kelebihan protein tidak disimpan dalam tubuh, melainkan akan dirombak dalam hati menjadi senyawa yang mengandung unsur N, seperti NH3 (amonia) dan NH4OH (amonium hidroksida) serta senyawa yang tidak mengandung unsur N. Senyawa yang mengandung unsur N akan disintesis menjadi urea  di hati, karena hati mempunyai enzim arginase. Urea diangkut bersama zat-zat sisa lainnya ke ginjal untuk dikeluarkan melalui urin. Senyawa yang tidak mengandung unsur N akan disintesis kembali.



METABOLISME PROTEIN:
Protein turn-over dan amino acid pool :
Protein dalam tubuh bersifat dinamis, selalu ada sintesis dan degradasi. Di dalam setiap sel, protein secara kontinu dibuat dan diuraikan, proses ini disebut protein turn-over. Saat protein diuraikan, asam amino dibebaskan. Asam amino ini bercampur dengan asam amino dari dietary protein membentuk amino acid pool di dalam sel dan peradaran darah.

Nitrogen Balance:
1.   Negatif  jika N out > N in
2.   Positif  jika N out < N in
3.   Zero jika N out = N in 


ANABOLISME
1.   SINTESIS PROTEIN TRANSKRIPSI
Sintesis mRNA dari salah satu rantai DNA, yaitu rantai cetakan atau sense. RNA dihasilkan dari aktivitas enzim RNA polimerase. Enzim ini membuka pilinan kedua rantai DNA hingga terpisah dan merangkainkan nukleotida RNA dari arah 5’ ke 3’. Inisiasi Daerah DNA dimana RNA polimerase melekat dan mengawali transkripsi disebut promoter. Elongasi Pilinan heliks ganda DNA terbuka secara berurutan. Setelah sintesis RNA berlangsung, DNA heliks ganda terbentuk kembali dan molekul RNA baru akan lepas dari cetakan DNA-nya. Terminasi RNA polimerase mencapai titik akhir.  TRANSLASI Proses mRNA mengarahkan serangkaian asam amino dan sintesis protein. Inisiasi Terjadi dengan adanya mRNA, sebuah RNAt yang memuat asam amino pertama dari polipeptida dan 2 subunit RNAr. Pertama, subunit ribosom kecil mengikatkan diri pada RNAd dan RNAt inisiator. Pada mRNA terdapat kodon inisiasi AUG (start codon), yang memberi sinyal dimulainya proses translasi. RNAt inisiator yang membawa asam amino metionin, melekat pada kodon inisiasi AUG. Elongasi Asam amino-asam amino berikutnya ditambahkan satu persatu pada asam amino pertama (metionin). Molekul RNAr dari subunit ribosom besar berfungsi sebagai enzim, yaitu mengkatalis pembentukan ikatan peptida yang menggabungkan polipeptida yang memanjang ke asam amino yang baru tiba. Terminasi Elongasi berlanjut terus hingga ribosom mencapai kodon stop (UAA, UAG, atau UGA). Kodon stop hanya bertindak sebagai sinyal untuk menghentikan translasi. Akhirnya, rantai protein terbentuk.

2.   SINTESIS ASAM AMINO NON ESSENSIAL
a.   Transamination of α-keto acids Pyruvate  Alanine Oxaloacatate Aspartate α-keto glutarat    Glutamate
b.   Amidation Glutamate   Glutamine by glutamine synthetase Aspartate   Asparagine by asparagine synthetase
c.   Synthesis from other amino acids 3-phospoglycerate 3-phospopyruvate  serine Glutamate   prolin  by cyclization and reduction reactions Serine glycine by removal of hydroxymethil group and by hydroxymethyl transferase Metionin cysteine Fenilalanin tyrosine by phenylalanine hydroxylase.





 
KATABOLISME :
1.   KATABOLISME NITROGEN ASAM AMINO à UREA (removal of α-amino group)
a.   Transaminasi
Semua asam amino, kecuali lysine, threonine, proline, dan hydroxyproline, mengalami transaminasi. Dalam transaminasi, grup α-amino dihilangkan. Enzim alanine aminotransferase: Enzim glutamate aminotransferase: Pyruvate  α-amino acid α-ketoglutarat α-amino acid   L-alanine  α-keto acid   L-glutamate  α-keto acid
b.   Deaminasi oksidatif
Menggunakan enzim L-glutamate dehydrogenase:   NAD+  NADH,  NH3, Glutamate, α-ketoglutarate, dehydrogenase. Glutamate       NH3  NADP+  NADPH
c.   Transpor ammonia
i)   Di kebanyakan jaringan Glutamine synthetase mengubah kombinasi amonia dan glutamate menjadi glutamine (bentuk transpor amonia yang tidak beracun). Glutamine lalu ditranspor oleh darah ke hati, dimana glutamine diuraikan oleh glutaminase menjadi glutamate dan amonia bebas.
ii)                       Di otot Hasil transaminasi piruvat (hasil akhir glikolisis), yaitu alanine. Alanine ditranspor oleh darah ke hati, dimana alanine diubah lagi menjadi piruvat dengan transaminasi. Di hati, proses glukoneogenesis dapat menggunakan piruvat untuk mensintesis glukosa, yang mana dapat memasuki darah dan digunakan oleh otot – proses tersebut bernama glucose-alanine cycle sebagian besar di hati, di otot,  jaringan Glutamat, Glutamat Urea, Asam amino NH4+ATP Glutamine, Glutaminase sintetase H2O.  H2O Glutamate α-Keto- α-Keto-Glutamate  ADP, Pi glutarat Glutamine, Pyruvat, Alanine, Glukosa
d.   Siklus urea
i)   Di mitokondria CO2 +NH + 2 ATP Carbomyl phospate ; enzim:Carbomyl phospate synthetase I L-Ornithine L-Citruline ; enzim:Ornithine transcarbamoylase Carbomyl phospate Pi 
ii)                       Di sitosol *L-Citruline + L-Aspartate  Argininosuccinate ATP AMP + Ppi *Argininosuccinate Fumarate + L-Arginine ; enzim: Argininosuccinatelyase >>Fumarat dihidrasi menjadi malat yang dapat ditranspor ke mitokondria dan memasuki kembali Kreb’s Cycle. Selain itu, sitosolik malate dapat dioksidasi menjadi oksaloasetat, yang mana dapat diubah menjadi aspartat atau glukosa. *L-Arganine  L-Ornithine + Urea ; enzim: arginase  OVERALL:  Aspartate + NH3 + CO2 + 3 ATP     Urea + Fumarate + 2 ADP + AMP + 2 Pi + PPi+ 3 H20  *Urea berdifusi dari hati dan ditrasnpor dalam darah k eginjal, dimana urea disaring dan dikeluarkan dalam urine. Sebagian dari urea berdifusi ke ke usus halus dan diuraikan menjadi CO2 dan NH3 oleh bakteriurease. Amonia ini sebagian hilang di feces dan sebagian lagi diserap lagi oleh darah.



2.   KATABOLISME RANTAI KARBON ASAM AMINO
a.   Asam amino glukogenik: asam amino yang katabolismenya menghasilkan piruvat atau salah satu intermediat dari siklus Krebs, yaitu:
v      Asparagin aspartat oxaloacetate
v      Glutamine
Phenilalanin fumarat Prolin αketoglutarate Tyrosin Arginine Histidine
Metionin
v      Alanine Valin succynil-coA Serine Isoleusin Glycine pyruvat       Threonn Sistein Threonine
b.   Asam amino ketogenik: asam amino yang katabolismenya menghasilkan acetoacetate atau salah satu bahan bakunya (acetyl coA atau acetoacetyl coA). Acetoacetate adalah salah satu dari ketone body, yaitu:
v      Leusin hanya ketogenic Lisin
v      Isoleusin : ketogenic dan glukogenic Triptofan 


HORMON yang BERPENGARUH PADA METABOLISME PROTEIN
1.   Hormon Tiroid Efek utama T3/T4
adalah untuk menggalakkan sintesis protein secara umum dan menghasilka keseimbangan nitrogen yang positif. Konsentrasi T3 yang sangat tinggi akan menghambat sintesis protein dan menyebabakan keseimbangan nitrogen yang negatif. Tiroksin meningkatkan kecepatan metabolisme seluruh sel, secara tidak langsung juga mempengaruhi metabolisme protein. Jika karbohidrat dan lemak tidak cukup tersedia untuk energi, tiroksin menyebabkan pemecahan protein yang cepat dan memakainya untuk energi.

2.   Insulin
Insulin penting untuk sintesis protein. Kekurangan insulin secara total, mengurangi sintesis protein sampao hampir nol. Meski tidak diketahui kenapa, tapi insulin memang mempercepat transpor asam amino ke sel. Insulin juga meningkatkan persediaan glukosa ke sel, sehingga kebutuhan asam amino untuk energi berkurang.

3.   Glukokortikoid
Glukokortikoid yang disekresikan adrenal kortex mengurangi kuantitas protein di sebagian besar jaringan, tapi meningkatkan konsentrasi asam amino di dalam plasma, juga meningkatkan protein hati dan protein plasma. Diduga bahwa glukokortikoid bekerja dengan meningkatkan kecepatan pemecahan protein ekstrahepatik, dengan demikian, meningkatkan jumlah asam amino yang tersedia dalam cairan tubuh. Hal ini sebaliknya memungkinkan hati meningkatkan jumlah sintesis protein ekstraseluler dan protein plasma.

4.   Testosteron
Testosteron menyebabkan peningkatan deposit protein dalam jaringan di seluruh tubuh, terutama peningkatan protein kontraktil otot. Berbeda dengna hormon pertumbuhan yang menyebabakna jaringan terus menerus tumbuh hamoir tak terbatas, testosteron menyebabkan otot dan jaringan protein lain membesar hanya untuk beberapa bulan. 


PEMBENTUKAN KETON BODIES:
Setelah deaminasi, dikeluarkan sebagai urea. Rangkaian karbon yang tersisa setelah transaminasi :
(1)                       dioksidas menjadi CO2 lewat citric acid cycle
(2)                       membentuk glukosa (glukoneogenesis)
(3)                        membentuk keton bodies.Ketone body biasa digunakan setelah puasa untuk waktu yang lama (lebih dari 10 hari) sebagai sumber energi alternatif. Ketone bodies dalam jumlah yang kecil normal dalam darah, tapi bila konsentrasinya meningkat, pH dalam darah menurun. Ini disebut ketosis, sebuah tanda bahwa keadaan kimia tubuh mulai kacau. Saat dimana lebih banyak lagi keton bodies yang terakumulasi sehingga menyebabkan kadar pH darah turun sampai taraf asam yang membahayakan, keadaan ini disebut ketoacidosis. 


PEMBENTUKAN ALBUMIN
Albumin disintesis dalam hati dengan pengaruh hormon insulin / T4 atau kortisol. Kadar albumin yang normal dalam darah untuk orang dewasa (> 3 tahun) adalah 3,5-5 g/dL. Untuk anak-anak yang berumur kurang dari 3 tahun, kadar yang normal adalah 2,5-5,5 g/dL. 


BLOOD UREA NITROGEN (BUN) TEST
BUN adalah tes untuk mengatur seberapa baik ginjal bekerja. Tes ini mengukur kandungan nitrogen yang ada dalam darah, yaitu urea. Penyakit pada ginjal kadang membuat ginjal susah untuk menyaring urea sebanyak biasanya. Ini menyebabkan tingginya level urea dalam darah. Dalam tes ini, sampel darah akan diambil. Batas yang normal untuk BUN adalah 7-20 mg/dL. 

Apa yang Diukur dalam Tes Fungsi Hati?
Produk berikut biasanya diukur sebagai bagian dari tes fungsi hati:
  • ALT (alanin aminotransferase), juga dikenal sebagai SGPT (serum glutamik piruvik transaminase)
  • AST (aspartat aminotransferase), juga dikenal sebagai SGOT (serum glutamik oksaloasetik transaminase)
  • Fosfatase alkali
  • GGT (gamma-glutamil transpeptidase, atau gamma GT)
  • Bilirubin
  • Albumin
Lembaran Informasi (LI) 120 menunjukkan nilai normal atau nilai rujukan untuk semua tes tersebut. Harus ditekankan bahwa nilai ini berbeda tergantung pada alat yang dipakai di laboratorium yang melakukan tes serta cara penggunaannya. Laporan laboratorium yang kita terima setelah melakukan tes menunjukkan nilai normal yang berlaku. Sebagai contoh, batas atas nilai normal (BANN) untuk AST dapat berkisar dari 35 hingga 50, dan berbeda untuk laki-laki dan perempuan. Jadi bila kita ingin dapat komentar mengenai hasil tes, sebaiknya kita menyebut baik hasil tes maupun nilai normal. Selain itu, hasil tes juga dapat berubah tergantung pada jam berapa darah diambil. Sebaiknya contoh darah kita diambil pada jam yang sama setiap kali kita dites fungsi hati, dan juga selalu pada laboratorium yang sama.


Enzim Hati
ALT adalah lebih spesifik untuk kerusakan hati. ALT adalah enzim yang dibuat dalam sel hati (hepatosit), jadi lebih spesifik untuk penyakit hati dibandingkan dengan enzim lain. Biasanya peningkatan ALT terjadi bila ada kerusakan pada selaput sel hati. Setiap jenis peradangan hati dapat menyebabkan peningkatan pada ALT. Peradangan pada hati dapat disebabkan oleh hepatitis virus, beberapa obat, penggunaan alkohol, dan penyakit pada saluran cairan empedu.
AST adalah enzim mitokondria yang juga ditemukan dalam jantung, ginjal dan otak. Jadi tes ini kurang spesifik untuk penyakit hati. Dalam beberapa kasus peradangan hati, peningkatan ALT dan AST akan serupa.
Fosfatasealkali meningkat pada berbagai jenis penyakit hati, tetapi peningkatan ini juga dapat terjadi berhubungan dengan penyakit tidak terkait dengan hati. Fosfatase alkali sebetulnya adalah suatu kumpulan enzim yang serupa, yang dibuat dalam saluran cairan empedu dan selaput dalam hati, tetapi juga ditemukan dalam banyak jaringan lain. Peningkatan fosfatase alkali dapat terjadi bila saluran cairan empedu dihambat karena alasan apa pun. Di antara yang lain, peningkatan pada fosfatase alkali dapat terjadi terkait dengan sirosis dan kanker hati.
GGT sering meningkat pada orang yang memakai alkohol atau zat lain yang beracun pada hati secara berlebihan. Enzim ini dibuat dalam banyak jaringan selain hati. Serupa dengan fosfatase alkali, GGT dapat meningkat dalam darah pasien dengan penyakit saluran cairan empedu. Namun tes GGT sangat peka, dan tingkat GGT dapat tinggi berhubungan dengan hampir semua penyakit hati, bahkan juga pada orang yang sehat. GGT juga dibuat sebagai reaksi pada beberapa obat dan zat, termasuk alkohol, jadi peningkatan GGT kadang kala (tetapi tidak selalu) dapat menunjukkan penggunaan alkohol. Penggunaan pemanis sintetis sebagai pengganti gula, seumpamanya dalam diet soda, dapat meningkatkan GGT.


Tes Air Seni
Ada serangkaian tes pada air seni untuk menilai fungsi ginjal. Sebuah tes sederhana, yang disebut urinanalisis, sering dilakukan pada awal. Contoh air seni diperiksa secara fisik untuk ciri termasuk warna, bau, penampilan, dan kepadatan; diperiksa secara kimia untuk unsur termasuk protein, glukosa, dan pH; dan di bawah mikroskop untuk keberadaan unsur sel (sel darah merah dan putih, dll.), bakteri, kristal, dsb. Kalau hasil tes ini menunjukkan kemungkinan ada penyakit atau penurunan pada fungsi ginjal, tes yang berikut mungkin dapat dilakukan:
  • Keluaran kreatinin (creatinine clearance). Tes ini menilai kemampuan ginjal untuk menghilangkan senyawa yang disebut kreatinin dari darah. Kreatinin adalah bahan ampas dari metabolisme tenaga otot, yang seharusnya disaring oleh ginjal dan dimasukkan pada air seni. Tes ini mengukur jumlah kreatinin yang dikeluarkan ke air seni selama beberapa jam. Untuk menghitung keluaran, tingkat kreatinin dalam darah juga harus diukur.
  • Keluaran urea. Urea adalah bahan ampas dari metabolisme protein, dan dikeluarkan dalam air seni. Seperti keluaran kreatinin, tes ini mengukur jumlah urea yang dikeluarkan ke air seni selama beberapa jam, dan juga membutuhkan pengukuran tingkat urea dalam darah.
  • Osmologi air seni. Tes ini mengukur jumlah partikel (bibit) yang dilarutkan dalam air seni, untuk menilai kemampuan ginjal untuk mengatur kepekatan air seni sebagaimana konsumsi air meningkat atau menurun.
  • Keberadaan protein. Ginjal yang sehat menyaring semua protein dari darah dan menyerapnya kembali, sehingga tingkat protein dalam air seni tetap rendah. Tetap ditemukan protein dalam air seni adalah tanda penyakit ginjal.


Tes Darah
Ada beberapa tes darah yang dapat membantu menilai fungsi ginjal:
  • Nitrogen urea darah (blood urea nitrogen/BUN). Urea adalah produk samping dari metabolisme protein. Bahan ampas ini dibentuk oleh hati, kemudian disaring oleh ginjal dan dikeluarkan dalam air seni oleh ginjal. Tingkat BUN dalam darah dapat menandai masalah ginjal, tetapi karena juga dipengaruhi oleh fungsi hati (lihat Lembaran Informasi (LI) 135), tes harus dilakukan bersamaan dengan pengukuran kreatinin, yang lebih khusus menandai masalah ginjal.
  • Kreatinin. Tes ini mengukur tingkat kreatinin (lihat di atas) dalam darah. Karena tingkat kreatinin hanya sedikit dipengaruhi oleh fungsi hati, tingkat kreatinin yang tinggi dalam darah lebih khusus menandai penurunan pada fungsi ginjal.
  • Tes lain. Pengukuran tingkat zat lain, yang seharusnya diatur oleh ginjal, dalam darah dapat membantu menilai fungsi hati. Zat ini termasuk zat natrium, kalium, klorida, bikarbonat, kalsium, magnesium, fosforus, protein, asam urik dan glukosa.

Template by:
Free Blog Templates