manufactured

Minggu, 29 Mei 2011

Manfaat dan Bahaya Minyak Jelantah

 

Minyak jelantah itu apa sih ?? Bahaya nggak ya kalau kita menkonsumsi makanan yang digoreng dengan minyak jelantah ?? Di samping bahayanya sangat besar bagi kesehatan tubuh apakah minyak jelantah ada manfaatnya ??

Artikel ini akan mencoba menjelaskan tentang bahaya dan manfaat dari penggunaan minyak jelantah.

Minyak jelantah adalah minyak goreng yang dipanaskan atau digunakan berulang kali dan telah mengalami perubahan, baik secara fisik maupun kimia yakni dengan adanya perubahan warna dari bening menjadi berwarna gelap dan berbau tengik, serta secara kimiawi mengalami perubahan reaksi hidrolis, oksidasi termal dan polimerasi termal.

Seringkali kita menemui penggunaan minyak ini di warung-warung makanan dan penjual gorengan. Para pedagang menggunakannya karena di samping harganya yang murah, para pedagang juga merasa sayang membuang minyak goreng yang telah dipakai karena harga minyak saat ini meroket. Padahal penggunaan minyak jelantah sendiri berbahaya lho.

Coba kita lihat tukang gorengan di sepanjang jalan. Warna minyaknya yang mendidih selalu berwarna hitam pekat. Semakin pekat warnanya konon akan semakin gurih rasa gorengannya. Ya, itulah minyak jelantah yang sudah digunakan berulang kali. Demi alasan penghematan, minyak jelantah digunakan terus-menerus. Alhasil, kesehatan tubuh yang memakan gorengan lah yang menjadi korbannya. Jika Anda menyukai gorengan, waspadalah terhadap gorengan berwarna gelap dan bertekstur lebih keras dari biasanya karena mungkin minyak yang digunakan adalah minyak jelantah.
Tidak jauh dari perilaku itu, kita pun kadang merasa sayang membuang minyak jelantah dari dapur kita. Minyak jelantah masih saja kita gunakan meski kita tahu bahwa minyak itu sudah tidak layak dipakai.
Padahal kita tahu, minyak jelantah telah mengalami perubahan struktur kimiawinya akibat proses penggorengan. Minyak jelantah mengandung asam lemak jenuh yang tinggi yang berbahaya bagi tubuh. Kandungan kolesterol baik (HDL) semakin berkurang sementara kolesterol buruk (LDL) semakin meningkat. Hal ini dapat memicu berbagai penyakit seperti hipertensi, penyumbatan peredaran darah, penyakit jantung, dan stroke. Bahkan lebih dari itu, minyak jelantah dapat menyababkan kanker colon pada usus besar.
Minyak jelantah pun dapat merusak nutrisi baik yang dikandung makanan. Contohnya ikan salmon yang mengandung Omega-3, nutrisi yang bermanfaat untuk menurunkan kolesterol dalam darah, akan hilang khasiatnya jika digoreng dengan minyak jelantah karena komposisi ikatan rangkapnya menjadi rusak.

Berdasarkan hasil kajian dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM RI Mataram), serta kajian dari pakar kesehatan terhadap penggunaan minyak jelantah sebagai minyak goreng akan memberikan dampak pada gangguan kesehatan. Gangguan kesehatan yang ditimbulkan tersebut diantaranya, penggunaan minyak goreng berulang kali (lebih dari dua kali) pada suhu tinggi (160 derajat C sampai dengan 180 derajat C) akan mengakibatkan hidrolis lemak menjadi asam lemak bebas yang mudah teroksidasi, sehingga minyak menjadi tengik dan membentuk asam lemak trans yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan yang berhubungan dengan metabolisme kolesterol yang berujung pada penyakit tekanan darah tinggi dan jantung serta akan membentuk akrolein yaitu suatu senyawa yang menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan dan menimbulkan batuk. Selain itu, pengonsumsi minyak ini juga beresiko terkena penyumbatan pembuluh darah dan jantung koroner. Dan yang tak kalah berbahaya, minyak ini juga bersifat karsinogen sehingga bisa menyebabkan kanker.

Mungkin bahaya di atas tidak akan terlihat hanya dengan sesekali mengonsumsi. Tapi bagaimana jika kita mengonsumsinya hampir setiap hari? Zat-zat berbahaya itu akan menumpuk di tubuh kita dan efeknya baru akan terasa.

Lalu, kenapa minyak jelantah masih banyak digunakan dan dikonsumsi?

Dari segi pedagang

Di tengah harga bahan makanan yang semakin meroket, para pedagang makanan harus mencari akal agar harga makanan jualannya tidak ikut naik karena hal itu akan berakibat berkurangnya pembeli. Akhirnya ada pedagang yang mengakali dengan mengurangi porsi makanan. Ada juga yang mengakali dengan menggunakan minyak bekas dan dipakai berulangkali sehingga pedagang tidak harus membeli minyak baru setiap harinya.

Tidak tahukah mereka bahaya minyak jelantah?

Sebagian pedagang sebenarnya tahu bahaya penggunaan minyak jelantah. Tapi mereka lebih mementingkan tidak mau rugi daripada kesehatan pembeli dagangannya. Hal ini cukup memprihatinkan. Ada juga pedagang yang benar-benar tidak tahu bahayanya penggunaan minyak jelantah. Hal ini dikarenakan kurangnya sosialisasi yang dilakukan kepada para pedagang mengenai bahaya minyak jelantah.

Dari segi pembeli

Biasanya pengguna minyak jelantah adalah warung-warung yang menyediakan harga miring untuk makanannya. Warung-warung ini banyak diminati oleh pekerja kantoran dan juga pelajar. Penghematan adalah salah satu alasan mereka memilih warung-warung tersebut kendati warung-warung tersebut menggunakan minyak jelantah yang berbahaya.
Jelantah yang bisa dikonsumsi
Kita dapat menggunakan minyak goreng yang kita pakai, tetapi maksinmal hanya 3 kali pemakaian. Minyak jelantah yang masih bisa digunakan adalah minyak jelantah yang masih jernih atau bening, berwarna kuning muda, dengan aroma masih segar khas minyak goreng. Minyak jelantah yang berwarna kental atau pekat dan aroma tengik sudah tidak layak digunakan sebagai miyak goreng. Minyak jelantah berwarna pekat sudah mengalami proses degradasi dan oksidasi yang menjadikan minyak tersebut bersifat toksik (beracun bagi tubuh manusia).
Memanfaatkan jelantah
Jika minyak jelantah sudah tidak bisa digunakan karena sudah berwarna pekat, lalu apa yang masih bisa kita lakukan agar minyak jelantah masih bisa dimanfaatkan. Sebagian dari kita mungkin merasa sayang untuk membuangnya begitu saja. Berdasarkan pandangan dari Safriadi dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), minyak jelantah dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif untuk kompor yang ramah lingkungan, karena termasuk dalam kelompok sumber energi nabati. Limbah minyak goreng berpotensi menjadi alternatif bahan bakar nabati yang ramah lingkungan dan mampu menurunkan 100% emisi gas buangan sulfur dan CO2 serta CO sampai 50%. Di kalangan orang tua jaman dulu pun, ada sebagian orang yang menggunakan lampu dengan minyak jelantah ini.

Daftar pustaka : http://www.suarakomunitas.net/?lang=id&rid=19&id=4074

Disusun oleh : Nama : Retno Palupi

NIM : A.102.06.024

Program : Reguler B

Tingkat/Smt : I / II

0 komentar:

Poskan Komentar

Manfaat dan Bahaya Minyak Jelantah

 

Minyak jelantah itu apa sih ?? Bahaya nggak ya kalau kita menkonsumsi makanan yang digoreng dengan minyak jelantah ?? Di samping bahayanya sangat besar bagi kesehatan tubuh apakah minyak jelantah ada manfaatnya ??

Artikel ini akan mencoba menjelaskan tentang bahaya dan manfaat dari penggunaan minyak jelantah.

Minyak jelantah adalah minyak goreng yang dipanaskan atau digunakan berulang kali dan telah mengalami perubahan, baik secara fisik maupun kimia yakni dengan adanya perubahan warna dari bening menjadi berwarna gelap dan berbau tengik, serta secara kimiawi mengalami perubahan reaksi hidrolis, oksidasi termal dan polimerasi termal.

Seringkali kita menemui penggunaan minyak ini di warung-warung makanan dan penjual gorengan. Para pedagang menggunakannya karena di samping harganya yang murah, para pedagang juga merasa sayang membuang minyak goreng yang telah dipakai karena harga minyak saat ini meroket. Padahal penggunaan minyak jelantah sendiri berbahaya lho.

Coba kita lihat tukang gorengan di sepanjang jalan. Warna minyaknya yang mendidih selalu berwarna hitam pekat. Semakin pekat warnanya konon akan semakin gurih rasa gorengannya. Ya, itulah minyak jelantah yang sudah digunakan berulang kali. Demi alasan penghematan, minyak jelantah digunakan terus-menerus. Alhasil, kesehatan tubuh yang memakan gorengan lah yang menjadi korbannya. Jika Anda menyukai gorengan, waspadalah terhadap gorengan berwarna gelap dan bertekstur lebih keras dari biasanya karena mungkin minyak yang digunakan adalah minyak jelantah.
Tidak jauh dari perilaku itu, kita pun kadang merasa sayang membuang minyak jelantah dari dapur kita. Minyak jelantah masih saja kita gunakan meski kita tahu bahwa minyak itu sudah tidak layak dipakai.
Padahal kita tahu, minyak jelantah telah mengalami perubahan struktur kimiawinya akibat proses penggorengan. Minyak jelantah mengandung asam lemak jenuh yang tinggi yang berbahaya bagi tubuh. Kandungan kolesterol baik (HDL) semakin berkurang sementara kolesterol buruk (LDL) semakin meningkat. Hal ini dapat memicu berbagai penyakit seperti hipertensi, penyumbatan peredaran darah, penyakit jantung, dan stroke. Bahkan lebih dari itu, minyak jelantah dapat menyababkan kanker colon pada usus besar.
Minyak jelantah pun dapat merusak nutrisi baik yang dikandung makanan. Contohnya ikan salmon yang mengandung Omega-3, nutrisi yang bermanfaat untuk menurunkan kolesterol dalam darah, akan hilang khasiatnya jika digoreng dengan minyak jelantah karena komposisi ikatan rangkapnya menjadi rusak.

Berdasarkan hasil kajian dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM RI Mataram), serta kajian dari pakar kesehatan terhadap penggunaan minyak jelantah sebagai minyak goreng akan memberikan dampak pada gangguan kesehatan. Gangguan kesehatan yang ditimbulkan tersebut diantaranya, penggunaan minyak goreng berulang kali (lebih dari dua kali) pada suhu tinggi (160 derajat C sampai dengan 180 derajat C) akan mengakibatkan hidrolis lemak menjadi asam lemak bebas yang mudah teroksidasi, sehingga minyak menjadi tengik dan membentuk asam lemak trans yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan yang berhubungan dengan metabolisme kolesterol yang berujung pada penyakit tekanan darah tinggi dan jantung serta akan membentuk akrolein yaitu suatu senyawa yang menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan dan menimbulkan batuk. Selain itu, pengonsumsi minyak ini juga beresiko terkena penyumbatan pembuluh darah dan jantung koroner. Dan yang tak kalah berbahaya, minyak ini juga bersifat karsinogen sehingga bisa menyebabkan kanker.

Mungkin bahaya di atas tidak akan terlihat hanya dengan sesekali mengonsumsi. Tapi bagaimana jika kita mengonsumsinya hampir setiap hari? Zat-zat berbahaya itu akan menumpuk di tubuh kita dan efeknya baru akan terasa.

Lalu, kenapa minyak jelantah masih banyak digunakan dan dikonsumsi?

Dari segi pedagang

Di tengah harga bahan makanan yang semakin meroket, para pedagang makanan harus mencari akal agar harga makanan jualannya tidak ikut naik karena hal itu akan berakibat berkurangnya pembeli. Akhirnya ada pedagang yang mengakali dengan mengurangi porsi makanan. Ada juga yang mengakali dengan menggunakan minyak bekas dan dipakai berulangkali sehingga pedagang tidak harus membeli minyak baru setiap harinya.

Tidak tahukah mereka bahaya minyak jelantah?

Sebagian pedagang sebenarnya tahu bahaya penggunaan minyak jelantah. Tapi mereka lebih mementingkan tidak mau rugi daripada kesehatan pembeli dagangannya. Hal ini cukup memprihatinkan. Ada juga pedagang yang benar-benar tidak tahu bahayanya penggunaan minyak jelantah. Hal ini dikarenakan kurangnya sosialisasi yang dilakukan kepada para pedagang mengenai bahaya minyak jelantah.

Dari segi pembeli

Biasanya pengguna minyak jelantah adalah warung-warung yang menyediakan harga miring untuk makanannya. Warung-warung ini banyak diminati oleh pekerja kantoran dan juga pelajar. Penghematan adalah salah satu alasan mereka memilih warung-warung tersebut kendati warung-warung tersebut menggunakan minyak jelantah yang berbahaya.
Jelantah yang bisa dikonsumsi
Kita dapat menggunakan minyak goreng yang kita pakai, tetapi maksinmal hanya 3 kali pemakaian. Minyak jelantah yang masih bisa digunakan adalah minyak jelantah yang masih jernih atau bening, berwarna kuning muda, dengan aroma masih segar khas minyak goreng. Minyak jelantah yang berwarna kental atau pekat dan aroma tengik sudah tidak layak digunakan sebagai miyak goreng. Minyak jelantah berwarna pekat sudah mengalami proses degradasi dan oksidasi yang menjadikan minyak tersebut bersifat toksik (beracun bagi tubuh manusia).
Memanfaatkan jelantah
Jika minyak jelantah sudah tidak bisa digunakan karena sudah berwarna pekat, lalu apa yang masih bisa kita lakukan agar minyak jelantah masih bisa dimanfaatkan. Sebagian dari kita mungkin merasa sayang untuk membuangnya begitu saja. Berdasarkan pandangan dari Safriadi dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), minyak jelantah dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif untuk kompor yang ramah lingkungan, karena termasuk dalam kelompok sumber energi nabati. Limbah minyak goreng berpotensi menjadi alternatif bahan bakar nabati yang ramah lingkungan dan mampu menurunkan 100% emisi gas buangan sulfur dan CO2 serta CO sampai 50%. Di kalangan orang tua jaman dulu pun, ada sebagian orang yang menggunakan lampu dengan minyak jelantah ini.

Daftar pustaka : http://www.suarakomunitas.net/?lang=id&rid=19&id=4074

Disusun oleh : Nama : Retno Palupi

NIM : A.102.06.024

Program : Reguler B

Tingkat/Smt : I / II

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:
Free Blog Templates